Pengelolaan perkebunan sagu (Metroxylon Spp.) Di pt. National timber and forest product unit hti murni sagu, selat panjang, riau dengan aspek pengaturan jarak tanam




Дата канвертавання22.04.2016
Памер129.77 Kb.
Makalah Seminar Departemen Agronomi dan Hortikultura

Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor


PENGELOLAAN PERKEBUNAN SAGU (Metroxylon Spp.) DI PT. NATIONAL TIMBER AND FOREST PRODUCT UNIT HTI MURNI SAGU, SELAT PANJANG, RIAU DENGAN ASPEK PENGATURAN JARAK TANAM

(Sago (Metroxylon spp.) Plantation Management In PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu, Selat Panjang, Riau With Plant Spacing Aspect)
Aditya Rahman1, Iskandar Lubis2, dan M. H. Bintoro3

1Mahasiswa Departemen Agronomi dan Hortikultura

2Staf Pengajar Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

3Staf Pengajar Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor
ABSTRACT

Sago (Metroxylon sago Rottb.) potentially become an alternative source of staple food after rice because of the high carbohydrate contents. Carbohydrate of sago plants is the most productive than other carbohydrate plant. One of the cultivation technic that can create a good environment for plant growth is the plant spacing. Therefore, on the internship in particular was done observation of the influence of plant spacing to sago plant growth. Internship at PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu, Selat Panjang, Riau was held from February 2009 until June 2009. During the internship students work as daily employees, supervisor, and assistant division. An observations the influence of plant spacing done every month. In addition, visual observation of the environment grows is also observed in the first month. Conclusions from this internship there are plantation maintenance in PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu have not maximal. Based on the observation, area with 8 m x 8 m plant spacing have a better environmental conditions than area with 10 mx 10 m and 10 mx 15 m plant spacing. In addition, sago plant at area with 8 m x 8 m plant spacing have the best growth.

Keyword : Metroxylon sagu Rottb., sago, internship, PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu, and plant spacing

PENDAHULUAN
Latar Belakang

Sagu (Metroxylon spp.) telah lama dikenal sebagai tanaman pangan utama bagi sebagian masyarakat Indonesia seperti penduduk di Papua dan Maluku. Sagu berpotensi menjadi sumber pangan pokok alternatif setelah beras karena kandungan karbohidrat yang tinggi. Dibandingkan dengan tanaman pengha-sil karbohidrat lain sagu merupakan tanaman penghasil karbohid-rat yang paling produktif. Produksi sagu yang dikelola dengan baik dapat mencapai 25 ton pati kering/ha/tahun. Produktivitas ini setara dengan tebu, namun lebih tinggi dibandingkan dengan ubi kayu dan kentang dengan produktivitas pati kering 10-15 ton/ha/tahun.

Pertumbuhan tanaman sagu dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti faktor internal, faktor eksternal, dan teknis budidaya. Tanaman sagu dapat tumbuh pada berbagai kondisi hidrologi dari yang terendam sepanjang masa sampai ke lahan yang tidak terendam air (Bintoro, 2008). Tanaman sagu memer-lukan sinar matahari dalam jumlah banyak. Apabila ternaungi, kadar pati di dalam batang sagu akan rendah.

Salah satu tindakan budidaya yang dapat menciptakan kondisi lingkungan yang baik bagi pertumbuhan dan perkem-bangan tanaman sagu adalah pengaturan jarak tanam atau populasi per satuan luasnya. Pohon sagu yang tumbuh secara alami biasanya memiliki jarak antar tanaman yang tidak teratur, sehingga kemungkinan akan terjadi kompetisi baik terhadap air, unsur hara maupun cahaya diantara individu tanaman. Melalui pengaturan jarak tanam yang tepat tingkat persaingan antar maupun inter tanaman dapat ditekan serendah mungkin.

Penanaman pada perkebunan sagu dikenal dengan sistem blok. Jarak tanam pada sistem blok bervariasi antara 8-10 m, sehingga satu hektar hanya menampung + 150 tanaman. Untuk mendapatkan hasil yang optimal maka dilakukan pengaturan jarak tanam sehingga pola pertumbuhan dan kerapatan anakan sagu dapat optimal. Oleh karena itu, pada magang kali ini secara khusus dilakukan pengamatan pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan tanaman sagu di PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu, Selat Panjang, Riau.
Tujuan


  1. meningkatkan pengetahuan dan melatih keterampilan mahasiswa dalam kegiatan budidaya serta pengelolaan manajemen perkebunan, terutama perkebunan sagu (Metroxylon sagu Rottb.).

  2. mempelajari aspek teknis dan manajerial budidaya sagu (M. sagu Rottb.) di PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu, Selatpanjang, Riau.

  3. mempelajari pengaruh beberapa jarak tanam terhadap pertumbuhan tanaman sagu di PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu, Selatpanjang, Riau.

  4. mengetahui jarak tanam yang terbaik bagi pertumbuhan tanaman sagu dari beberapa jarak tanam yang digunakan di PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu, Selatpanjang, Riau.


METODE MAGANG
Tempat dan Waktu

Kegiatan magang dilaksanakan di kebun PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu, Selatpanjang, Riau. Magang dilaksanakan selama empat bulan, yaitu mulai bulan Februari 2009 sampai dengan bulan Juni 2009.



Metode Pelaksanaan

Selama magang mahasiswa bekerja langsung di lapangan sebagai karyawan harian lepas, pendamping mandor, dan asisten divisi. Keadaan kebun yang masih kurang terpelihara dengan baik memberikan peluang untuk dilakukan pengamatan lebih lanjut pada beberapa aspek kegiatan budidaya sagu. Salah satu yang dapat diamati adalah penentuan jarak tanam yang tepat un-tuk budidaya sagu. Pada kesempatan ini dilakukan pengamatan pada pengaruh pengaturan jarak tanam terhadap pertumbuhan tanaman sagu sesuai dengan jarak tanam yang digunakan di kebun PT. National Timber And Forest Product.


Pengamatan dan Pengumpulan Data Magang

Dalam mencapai tujuan dari magang ini dibutuhkan data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan melalui pengamatan secara langsung di lapangan dengan mengi-kuti semua kegiatan yang dilaksanakan oleh perusahaan. Data sekunder diperoleh dengan mempelajari dan menganalisis la-poran manajerial yang ada dan studi pustaka.

Pengamatan pengaruh pengaturan jarak tanam dilakukan terhadap pertumbuhan tanaman sagu setiap sebulan sekali. Selain itu, dilakukan juga pengamatan visual keadaan lingkungan tum-buh di sekitar rumpun tanaman. Pengamatan dilakukan sekali pada bulan pertama.
KONDISI UMUM KEBUN
Sejarah Kebun

PT. National Timber And Forest Product merupakan salah satu anak perusahaan dari PT. Siak Raya Groups yang berkantor pusat di Pekan Baru. PT. National Timber didirikan pada tanggal 4 September 1970 sebagaimana dijelaskan pada Akta Notaris No. 2 tahun 1970 yang dibuat di hadapan Mochammad Ali Adjoejir, wakil notaris di Pekanbaru, yang telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman dengan keputusan Nomor J.A.5/4/19 tanggal 7 Januari 1971.



Letak Geografis dan Letak Wilayah Administratif

PT. National Timber And Forest Product terletak di Keca-matan Tebing Tinggi, Kabupaten Meranti, Propinsi Riau. Secara geografis PT. National Timber And Forest Product terletak pada 00 32’ -10 08’ LU dan 1010 43’ – 1030 08’ BT dengan keting-gian 0 – 5 m di atas permukaan laut (NTFP, 1997).

Secara administratif areal PT. National Timber And Forest Product menempati beberapa desa, yaitu beberapa desa yaitu Desa Tanjung Sari, Desa Lukun, Desa Kayu Ara, Desa Sungai Pulau, Desa Kepau Baru, Desa Teluk Buntal, Desa Sungai Tohor dan Desa Tanjung Gadai.
Keadaan Tanah dan Iklim

Jenis tanah yang terdapat di areal PT. National Timber And Forest Product terdiri atas jenis tanah organosol seluas 19.820 hektar (99,6 %) dan jenis tanah alluvial seluas 80 hektar (0,4 %) dengan dengan topografi datar kemiringan lahan termasuk kelas lereng LI (kelerangan antara 0 – 8 %). Karakteristik tanahnya memiliki konsistensi tanah lekat, porositas tanah sedang, dan reaksi tanah yang sangat masam dengan pH berkisar 3,1 – 4,0 (NTFP, 1997).

Menurut Schmidt dan Fergusson (1951), areal PT. National Timber And Forest Product termasuk type B dengan Q = 33,3 % (NTFP, 1997). Rata-rata curah hujan tahunan pada periode pengamatan tahun 1988 - 1997 mencapai 2.208,9 mm.
Luas Areal dan Keadaan Tanaman

Luas total kawasan hutan HTI-Murni Sagu PT. National Timber And Forest Product sebesar 19.900 ha. Dari areal seluas 19.900 ha tersebut menurut Tata Guna Hutan Kesepakatan terdiri atas Hutan Produksi Terbatas 18.100 ha dan Hutan Konversi seluas 1.800 ha. Penanaman sagu di PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu dilakukan dalam tiga periode. Penanaman sagu di Divisi 1, 2, 3, 4 dilakukan pada tahun 1996-1997, Divisi 5, 6, 7, 8 dilakukan pada 1999/2000, dan Divisi 9, 10, 11, dan 12 dilakukan pada tahun 2003/2004. Kondisi pertumbuhan sagu di Divisi 1, 2, 3, dan 4 lebih baik dibandingkan yang lainnya. Jumlah tanaman yang tumbuh pada keempat divisi tersebut juga lebih banyak dibandingkan Divisi 5-12.


Struktur Organisasi dan Ketenagakerjaan

Struktur organisasi PT. National Timber and Forest Product berbentuk garis (line organization). Pimpinan puncak di PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu dipe-gang oleh General Manager. Tim Teknis dan Pendukung (Tech-nical and Supporting Team) dan Koordinator bertanggungjawab langsung kepada General Manager. Asisten divisi secara lang-sung bertanggung jawab kepada koordinator atas pelaksanaan pengelolaan kebun. Asisten divisi memberikan instruksi, bim-bingan dan pengarahan kepada mandor atas pengelolaan kebun. Dalam kegiatannya setiap asisten divisi dibantu oleh mandor I, krani, dan empat mandor lapangan.

Kepala tata usaha bertanggungjawab langsung kepada Gene-ral Manager. Kepala tata usaha dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh lima kepala bagian yaitu bagian personalia, bagian pembukuan, bagian gudang, bagian umum Tanjung Bandul, dan bagian umum Selat Panjang.

PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG
Aspek Teknis

Persiapan Bahan Tanam

Bahan tanam dapat diperoleh dari anakan yang tumbuh pada tanaman induk. Anakan adalah bagian dari tanaman induk yang mempunyai struktur perakaran mandiri. Anakan sagu yang akan dipilih untuk menjadi bibit sebaiknya diambil dari induk sagu yang tumbuh dengan baik, bibit masih segar dengan pelepah yang masih hijau, bibit sudah cukup tua dengan dicirikan dengan banir yang cukup keras, pelepah dan pucuk masih hidup, bibit 3 - 4 kg per bibit (abut), banir berbentuk huruf L, dan bebas dari serangan hama penyakit. Anakan yang dipilih adalah anakan yang tumbuh agak jauh dari tanaman induk.


Penanaman

Sebelum ditanam di lapang, bibit terlebih dahulu disemaikan di kanal dengan menggunakan rakit yang terbuat dari kayu. Persemaian dilakukan agar bibit sagu tetap segar sebelum dipin-dah ke lapang. Bibit tanaman yang telah disemai selama tiga bulan dipindahkan ke lapangan. Sebelum penanaman dilakukan terlebih dahulu dilakukan pemancangan ajir pada areal yang akan ditanami. Jarak antar ajir sesuai dengan jarak tanam yang diguna-kan dalam areal tersebut. Ada tiga jarak tanam yang digunakan di PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu, yaitu jarak tanam 8 m x 8 m, 10 m x 10 m, dan 10 m x 15 m.


Pemupukan

Kebun sagu PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu terletak pada areal hutan gambut yang bersifat masam dengan pH 3.1 – 4.0, kandungan hara dan mineral rendah sehingga diperlukan tambahan nutrisi melalui pemupukan (Tabel 1).



Tabel 1. Rekomendasi dosis pemupukan yang digunakan oleh PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu Unit HTI Murni Sagu dari awal masa tanam sampai panen.

Umur

Dolomit

Urea

RP

MOP

Cu

Borate

Zn

tahun

 

 

 

 

 

 

 

………………………………gram…….………...………….

1

300

60

60

40

50

20

50

2

600

150

70

60

50

20

50

3

2000

350

200

200

50

20

50

4

3000

650

350

350

50

20

50

5

4000

750

450

400

50

20

50

6

4500

900

600

800

50

20

50

7

4500

1050

700

1000

50

20

50

8

5000

1200

800

1200

50

20

50

9

5000

1300

900

1600

50

20

50

10

5000

1400

1000

2000

50

20

50

>10

5000

1500

1000

2200

50

20

50

Sumber : National Timber and Forest Product Unit HTI Murni Sagu (2009)

Pemupukan dilakukan dengan interval tiga kali setahun setelah pelorongan dan pembersihan piringan. Aplikasi pemu-pukan yang pertama dilakukan setelah 2 minggu sesudah pe-nyemprotan gulma (chemical weeding).


Pengendalian Gulma

Pada areal PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu pertumbuhan gulma sangat tidak terkendali. Gulma yang terdapat pada areal PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu terdiri atas pakis, tumbuhan se-mak, gulma berkayu, dan pohon.

Pengendalian gulma di PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu dilakukan secara manual dan kimiawi. Metode manual dilakukan dengan melakukan pene-basan lorong dan piringan tanaman. Metode pengendalian kimia dilakukan dengan mengaplikasikan herbisida pada lorong dan piringan tanaman yang telah ditebas. Berdasarkan jenis gulma yang tumbuh, ada tiga jenis herbisida yang digunakan PT. Natio-nal Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu. Herbisida yang digunakan adalah Premaxon yang berbahan aktif Paraquat, Meta Prima yang berbahan aktif Metilsulfuron, dan racun kayu Tri Ester.
Pengendalian Hama dan Penyakit

Hama yang sering menyerang perkebunan sagu PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu adalah ulat sagu (Rynchophorus ferrugineus Oliver), anai-anai (Macrotermes sp.), monyet ekor panjang (Maccaca fascicularis Raffles), dan babi hutan (Sus scrofa Linn.). Penyakit yang sering ditemui yaitu bercak daun yang disebabkan oleh cendawan Cercospora sp.

Pengendalian hama dan penyakit di PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu dilakukan oleh masing-masing divisi secara berkala (6 bulan sekali). Pengen-dalian hama dan penyakit juga dilakukan secara spontan apabila ditemukan serangan hama dan penyakit yang cukup parah.
Manajemen Air

Perintisan, pencucian dan pelebaran kanal merupakan salah satu kegiatan pengelolaan air yang dilakukan di areal PT. Natio-nal Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu. Tujuan dari kegiatan tersebut untuk mengelola sumberdaya air dengan baik sehingga dapat menunjang pertumbuhan tanaman, transpor-tasi dan pencegahan kebakaran. Ada tiga jenis kanal yang ter-dapat di kebun, yaitu kanal utama, kanal cabang, dan kanal kolektor.

Ketinggian air dari permukaan tanah untuk tanaman sagu perlu dikontrol secara rutin untuk mengetahui status keberadaan air pada areal pertanaman sagu. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk melakukan monitoring ketinggan air, antara lain dengan menggunakan alat water level, pizzo meter, dan pintu air. Ketiga alat tersebut memiliki cara kerja yang berbeda tetapi fung-sinya sama, yaitu untuk mengontrol ketinggian air di areal perta-naman.
Sensus

Sensus panen merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendata banyaknya tanaman yang dapat dipanen dalam waktu dekat dan beberapa tahun ke depan. Selain itu, dari kegi-atan tersebut juga dapat diketahui berapa populasi tanaman yang hidup dalam satu blok. Sensus dilakukan terhadap variabel tinggi dan lingkar batang tanaman. Ada beberapa kriteria untuk pe-ngambilan data tinggi tanaman, yaitu 0-2 m, 2-4 m, 4-6 m, dan 6 m lebih.

Pada bulan Mei 2009, PT Sampoerna Tbk. dan PT. Siak Raya Groups sebagai perusahaan induk dari PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu membuat kesepakatan untuk melakukan sensus bersama. Sensus yang dilakukan terdiri atas sensus prosentase hidup sagu dan sensus taksasi produksi.

Metode yang digunakan adalah metode pengambilan contoh. Pengambilan contoh dilakukan dengan memilih beberapa jalur tanaman sagu pada setiap blok. Untuk prosentase hidup sagu sensus dilakukan pada 50 % populasi setiap blok. Sensus taksasi produksi dilakukan pada 10 % populasi setiap blok.


Panen dan Pasca Panen

Tanaman sagu memasuki masa tebang sekitar 10-12 tahun. Secara umum ada beberapa tingkatan pertumbuhan sagu yang bisa dipanen, yaitu maputih masa, putus duri, fasa jantung, dan fasa berbunga. Panen di PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu dilakukan pada blok yang telah selesai dilakukan sensus panen. Pada saat sensus panen tanaman yang telah masuk kriteria panen diberi tanda X dengan cat berwarna merah. Sarana transportasi berupa kanal pada blok yang akan dipanen harus dalam kondisi baik.



Aspek Manejerial
Deskripsi Kerja Karyawan

Kategori tenaga kerja yang terdapat di PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu Unit HTI Murni Sagu ada tiga macam, yaitu karyawan harian, karyawan bulanan, dan karyawan kontrak.



Karyawan Harian

Karyawan harian direkrut dari masyarakat sekitar perusa-haan dan bertugas untuk mengerjakan kegiatan pemeliharaan di lapangan. Karyawan harian yang terdapat di kebun terdiri atas buruh harian lepas (BHL) dan tenaga kerja borongan.



Karyawan Bulanan

Karyawan bulanan adalah karyawan tetap yang dimiliki oleh perusahaan. Karyawan bulanan tersebut terdiri atas tenaga kerja lapangan dan staf kantor. Tenaga kerja yang termasuk tenaga ker-ja lapangan terdiri atas mandor lapangan, mandor I, krani, dan asisten divisi.



Karyawan Kontrak

Karyawan kontrak direkrut untuk mengerjakan pekerjaan yang sifatnya bertarget dan harus selesai dalam periode tertentu. Tenaga kerja kontrak biasanya tergabung dalam sebuah tim dan diketuai oleh seorang kontraktor. Sebelum memulai kerjanya kontraktor melakukan penandatanganan surat perjanjian kerja (SPK) dengan General Manager.


PEMBAHASAN

Teknis Budidaya Sagu (Metroxylon spp.) dan Manejerial Perusahaan

Kegiatan budidaya yang dilaksanakan di PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu Unit HTI Murni Sagu terbagi menjadi tiga kegiatan yaitu penyiapan lahan, penanaman, dan pemeliharaan. Saat kegiatan magang berlang-sung tidak ada kegiatan penyiapan lahan dan penanaman yang dilakukan di kebun. Kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan di PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu terdiri atas pemupukan, pengendalian gulma, pengendalian hama dan penyakit, penyulaman, kontrol pertumbuhan, dan mana-jemen air. Pada saat kegiatan magang hanya kegiatan pengen-dalian gulma, kontrol pertumbuhan, dan manajemen air yang berlangsung di kebun.

Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pengendalian gulma yaitu blok terlalu luas, kondisi gulma di kebun yang sangat parah, dan kualitas tenaga kerja tidak semuanya bagus. Ketiga faktor tersebut mengakibatkan pekerjaan menjadi tidak efektif dan efisien, sehingga hasil kerja pun kurang baik.

Kegiatan pencucian dan pelebaran kanal di kebun PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu berdampak baik pada pertumbuhan tanaman sagu. Kondisi terse-but terlihat dari perubahan warna daun tanaman sagu. Daun sagu yang baru muncul berwarna lebih hijau dibandingkan dengan daun lama yang berwarna agak kekuningan. Kendala yang diha-dapi yaitu alat berat yang digunakan sudah berumur tua dan sulit mencari operator yang berkualitas. Kondisi tersebut mengaki-batkan kegiatan tidak terlaksana secara optimal.

Kegiatan lain yang juga dilaksanakan di kebun yaitu sensus prosentase hidup sagu dan sensus taksasi produksi. Dalam mela-kukan sensus kendala yang paling menyulitkan yaitu kondisi lantai kebun yang bergambut dan tidak rata, serta tidak teraturnya penanaman sagu.

Struktur organisasi PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu berbentuk garis (line organization). Pimpinan perusahaan dipegang oleh seorang General Manager yang ditunjuk oleh pemilik perusahaan. Proses pengambilan ke-putusan, kebijaksanaan, dan instruksi berjalan cepat dan tidak bertele-tele. Pengambilan keputusan dilakukan oleh General Ma-nager.

Pihak PT. Sampoerna Tbk. berencana akan melakukan pena-naman ulang pada areal yang jumlah sagunya sedikit atau tidak ada sama sekali. Apabila kegiatan penyulaman dan penanaman ulang jadi dilaksanakan, maka diperlukan perencanaan yang ma-tang sebelum kegiatan dilaksanakan. Salah satu bagian penting dalam perencanaan kegiatan budidaya sagu adalah pengaturan jarak tanam. Pemilihan jarak tanam yang tepat akan menunjang pertumbuhan tanaman sagu dalam memperoleh unsur hara dan penyinaran cahaya matahari yang optimal. Jarak tanam yang digunakan di PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu Unit HTI Murni Sagu saat ini ada tiga yaitu 8 m x 8 m, 10 m x 10 m, dan 10 m x 15 m.
Kondisi Lingkungan Kebun

Lingkungan tumbuh pada areal perkebunan PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu Unit HTI Murni Sagu menunjukkan kondisi yang beragam. Kategori penutupan gulma tidak sama pada setiap divisi dan blok. Penu-tupan gulma pada kebun bervariasi mulai dari tertutup gulma ringan, tertutup gulma sedang, sampai tertutup gulma berat.

Pada kebun sagu dengan jarak tanam 8 m x 8 m tanaman sagu banyak yang tumbuh, namun areal tertutup rapat oleh gul-ma. Gulma yang tumbuh didominasi dari jenis pakis, dengan tinggi pakis pada areal tersebut sekitar 2 m. Selain pakis, terdapat juga beberapa jenis pohon di areal tersebut (Lampiran 1). Pada kebun sagu dengan jarak tanam 10 m x 10 m kondisinya cukup parah. Tanaman sagu yang tumbuh tidak banyak dan gulma yang tumbuh lebih banyak dibandingkan kebun sagu dengan jarak tanam 8 m x 8 m. Gulma yang tumbuh pada areal tersebut tidak lagi didominasi oleh pakis, tetapi lebih didominasi oleh pohon berdiameter sedang (10-30 cm) (Lampiran 1). Kondisi penutupan vegetasi yang rapat dengan pohon membuat areal tersebut lebih menyerupai hutan sekunder dibandingkan kebun sagu.

Faktor yang menjadi penyebab banyaknya gulma yang tum-buh yaitu jarak tanam yang lebih lebar antar tanaman sagu. Jarak tanam yang lebih lebar menyebabkan adanya ruang yang lebih besar bagi gulma untuk tumbuh. Selain itu, pemeliharaan yang tidak dilakukan secara benar juga menjadi penyebab buruknya kondisi kebun.

Kondisi kebun pada areal 10 m x 15 m merupakan yang terparah dibandingkan kebun dengan jarak tanam 8 m x 8 m dan 10 m x 10 m. Pada areal tersebut banyak tanaman sagu yang mati dan gulma yang tumbuh sangat rapat serta bervariasi jenisnya (Lampiran 1).

Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Sagu (Metroxylon spp.)

Jumlah Anakan


  1. Jumlah anakan aktual

Perlakuan jarak tanam 8 m x 8 m dan 10 m x 10 m tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap jumlah anakan pada BP (bulan pengamatan) 1. Pada BP 2 sampai BP 4 jarak tanam 8 m x 8 m, 10 m x 10 m, dan 10 m x 15 m menunjukkan pengaruh nyata terhadap jumlah anakan (Tabel 2).


Perlakuan

………....................Jumlah Anakan (BP).................................




1

2

3

4

Jarak Tanam

…………………………satuan..……………………………

8 m x 8 m

41.00 a

46.40 a

63.10 a

65.13 a

10 m x 10 m

30.20 a

32.67 b

35.33 b

35.00 b

10 m x 15 m

7.13 b

8.73 c

9.70 c

9.60 c
Tabel 2. Pengaruh jarak tanam terhadap jumlah anakan tanaman sagu.

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak beda nyata pada uji DMRT taraf 5%

Perlakuan jarak tanam 8 m x 8 m dari BP 1 sampai BP 4 selalu memiliki nilai rata-rata tertinggi, sedangkan perlakuan jarak tanam 10 m x 15 m dari BP 1 sampai BP 4 memiliki nilai rata-rata terendah. Pada jarak tanam 8 m x 8 m tajuk tanaman sagu jarang terhalang oleh tajuk pohon, tidak seperti pada jarak tanam 10 m x 10 m dan 10 m x 15 m. Menurut Sitompul dan Guritno (1995), keadaan lingkungan yang bervariasi dari satu tempat dengan tempat lain, dan kebutuhan tanaman terhadap keadaan lingkungan yang khusus mengakibatkan keragaman pertumbuhan yang berkembang dapat terjadi menurut perbedaan tempat.

Gulma yang tumbuh pada jarak tanam 8 m x 8 m didominasi oleh pakis dan sedikit pohon. Terbukanya tajuk pohon mengaki-batkan sinar matahari diterima tanaman dengan baik dan diserap oleh daun untuk berfotosintesis, sehingga secara tidak langsung memberikan kesempatan bagi anakan untuk tumbuh sampai jarak tertentu dari tanaman induk. Rostiwati et al. (1998) dalam Bintoro (2008) menyatakan bahwa anakan sagu dapat tumbuh pada ruang yang kosong, sampai mendekati kanopi pohon.

Jarak tanam 10 m x 10 m memberikan ruang yang lebih lebar pada gulma untuk tumbuh. Pada jarak tanam 10 m x 10 m banyak gulma pohon tumbuh, walaupun demikian nilai rata-rata jumlah anakan cukup tinggi. Adanya celah pada tajuk pohon masih memungkinkan sinar matahari untuk menembus sampai ke bawah. Penyinaran dalam jumlah yang cukup memungkinkan fotosintesis berjalan dengan cukup baik sehingga suplai fotosintat ke bonggol tercukupi. Pada BP 1 sampai BP 3 perlakuan jarak tanam 10 m x 10 m nilai rata-rata jumlah anakan selalu meningkat, namun pada BP 4 nilai rata-ratanya menurun. Penurunan tersebut diakibatkan adanya anakan yang mati pada beberapa tanaman. Anakan tersebut mati karena terjadi persa-ingan antara anakan yang baru tumbuh dengan anakan yang telah ada sebelumnya.

Pada perlakuan jarak tanam 10 m x 15 m nilai rata-rata jumlah anakan dari BP 1 sampai BP 4 merupakan yang terendah diantara ketiga perlakuan. Rumpun sagu pada perlakuan 10 m x 15 m tertutup rapat oleh gulma pakis dan tumbuhan semak, serta dikelilingi oleh pohon. Pertumbuhan tanaman sagu menjadi terhambat dan jumlah anakan yang tumbuh menjadi berkurang. Pertumbuhan anakan yang hidup juga lambat dan hanya beberapa tanaman yang memiliki anakan besar (umur 3-4 tahun).

Nilai rata-rata ketiga perlakuan selalu meningkat setiap bulannya, kecuali perlakuan 10 m x 10 m BP 4. Peningkatan tersebut terjadi juga disebabkan oleh adanya perubahan kondisi lingkungan setiap tanaman contoh. Kondisi awal setiap rumpun tanaman sagu tertutup rapat oleh gulma, namun ketika akan dilakukan pengamatan rumpun tanaman dibersihkan dari gulma. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi anakan untuk tumbuh. Selain itu, kegiatan pemeliharaan kebun berupa penjarangan anakan/penunasan yang tidak terkontrol dengan baik merang-sang banyaknya anakan yang tumbuh.

B. Pertambahan jumlah anakan

Perlakuan jarak tanam 8 m x 8 m nilai rata-rata pertambahan jumlah anakannya selalu mengalami kenaikan (Gambar 1). Perla-kuan jarak tanam 8 m x 8 m memiliki nilai rata-rata pertam-bahan tertinggi dan perlakuan jarak tanam 10 m x 15 m memiliki nilai rata-rata pertambahan terendah. Hal tersebut dikarenakan kerapatan gulma pada perlakuan jarak tanam 8 m x 8 m lebih rendah daripada perlakuan jarak tanam 10 m x 10 m dan 10 m x 15 m. Kerapatan gulma yang rendah memungkinkan adanya ruang yang lebih lebar bagi anakan baru untuk tumbuh.

Gambar 1. Pertambahan jumlah anakan sagu.

Nilai rata-rata pertambahan jumlah anakan perlakuan jarak tanam 10 m x 10 m pada bulan kedua (0.80) lebih rendah dibandingkan perlakuan jarak tanam 10 m x 15 m (1.60) (Tabel 4). Kondisi tersebut dimungkinkan adanya perbedaan respon tanaman terhadap pembersihan rumpun yang dilakukan sebelum pengamatan. Terbukanya ruang pada rumpun tanaman harusnya memberikan kesempatan bagi anakan baru untuk tumbuh.

Pada bulan ketiga, nilai rata-rata perlakuan jarak tanam 10 m x 10 m (3.47) menjadi lebih tinggi dibandingkan perlakuan jarak tanam 10 m x 15 m (2.57). Kondisi tersebut terjadi karena mulai bulan ketiga rumpun sagu tanaman contoh perlakuan jarak tanam 10 m x 15 m telah dipenuhi gulma kembali, sedangkan pada perlakuan 10 m x 10 m rumpun sagu tanaman contoh tetap bersih dari gulma karena tanaman ternaungi pohon. Naungan tersebut menekan partumbuhan gulma pada rumpun sagu. Adanya gulma yang tumbuh kembali pada rumpun sagu mengakibatkan terjadi-nya persaingan antara tanaman dengan gulma. Adanya gulma menekan pertumbuhan anakan sagu (Tabel 3).

Tabel 3. Pertambahan rata-rata jumlah anakan tanaman sagu.

Perlakuan

….............Pertambahan Jumlah Anakan (BP) *) ................




2

3

4

Jarak Tanam

………………………….…satuan………………………..

8 m x 8 m

5.40

22.10

24.13

10 m x 10 m

0.80

3.47

3.13

10 m x 15 m

1.60

2.57

2.47

Keterangan : *) Nilai rata-rata setiap pengamatan dari bulan pengamatan kedua sampai keempat dikurangi dengan pengamatan pertama (pertambahan)

Nilai rata-rata pertambahan jumlah anakan perlakuan jarak tanam 8 m x 8 m pada bulan ketiga (22.10) meningkat empat kali lipat dibandingkan pada bulan kedua (5.40). Kondisi tersebut dimungkinkan oleh respon tanaman yang sangat baik terhadap pembersihan rumpun sagu. Pada bulan keempat, nilai rata-rata pertambahan jumlah anakan perlakuan jarak tanam 8 m x 8 m tetap naik, namun pada perlakuan 10 m x 10 m dan 10 m x 15 m menurun. Selain itu, pertambahan jumlah anakan pada bulan keempat (2.03) pada perlakuan jarak tanam 8 m x 8 m tidak sebesar pada bulan ketiga (16.70). Kondisi tersebut diakibatkan oleh kembali tumbuhnya gulma dan adanya beberapa anakan yang mati pada tanaman contoh. Pada bulan keempat perlakuan jarak tanam 8 m x 8 m memiliki nilai pertambahan rata-rata jumlah anakan tertinggi (2.03) dan perlakuan jarak tanam 10 m x 10 m memiliki nilai pertambahan rata-rata terendah (- 3,4).


Tinggi Tanaman

  1. Tinggi Tanaman Aktual

Ketiga perlakuan jarak tanam, 8 m x 8 m, 10 m x 10 m, dan 10 m x 15 m menunjukkan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dari BP 1 sampai BP 4. Nilai rata-rata perlakuan jarak tanam 8 m x 8 m dan 10 m x 10 m selalu meningkat setiap bulannya, sedangkan perlakuan jarak tanam 10 m x 15 m tetap (Tabel 5).

Perlakuan jarak tanam 8 m x 8 m memiliki nilai rata-rata tertinggi dan perlakuan jarak tanam 10 m x 15 m memiliki nilai rata-rata terendah. Perbedaan tinggi tanaman dari ketiga perla-kuan yang diamati dipengaruhi oleh umur tanaman dan faktor pemeliharaan kebun. Tanaman sagu pada perlakuan jarak tanam 8 m x 8 m memiliki umur 12-13 tahun, perlakuan jarak tanam 10 m x 10 m memiliki umur 9-10 tahun, dan perlakuan 10 m x 15 m memiliki umur 5-6 tahun. Ukuran batang sagu berbeda-beda, tergantung dari jenis, umur, dan lingkungan atau habitan partum-buhannya (Haryanto dan Pangloli, 1992).

Tabel 4. Pengaruh jarak tanam terhadap tinggi tanaman sagu.


Perlakuan

….............Tinggi Tanaman (BP)…...........




1

2

3

4

Jarak Tanam

……………...…(m)………………….

8 m x 8 m

5.40 a

5.48 a

5.53 a

5.61 a

10 m x 10 m

3.56 b

3.69 b

3.74 b

3.84 b

10 m x 15 m

0.00 c

0.00 c

0.00 c

0.00 c
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak beda nyata pada uji DMRT taraf 5%

Pemeliharaan kebun yang tidak terlaksana dengan baik sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman sagu. Pada perla-kuan jarak tanam 8 m x 8 m penutupan gulma lebih ringan diban-dingkan perlakuan jarak tanam 10 m x 10 m dan 10 m x 15 m sehingga penerimaan unsur hara dan sinar matahari pun menjadi lebih baik. Tanaman pada perlakuan jarak tanam 8 m x 8 m seharusnya telah memasuki fase masak tebang, namun karena pemeliharaan kebun tidak dilaksanakan dengan baik, maka hanya sebagian kecil populasi tanaman yang telah masuk dalam fase tersebut. Pada perlakuan jarak tanam 10 m x 15 m tanaman sagu seharusnya telah membentuk formasi batang, namun karena tidak pernah ada tindakan pemeliharaan kebun sejak awal tanam, maka tidak ada satupun tanaman yang telah mencapai fase tersebut.

Pada umur 3-11 tahun tinggi batang bebas daun sekitar 3-16 m dan sagu memiliki batang tertinggi pada umur panen, yakni 11 tahun ke atas. Pada tingkat umur ini perbedaan tinggi batang untuk setiap jenis sagu tidak jauh berbeda, tetapi pada umur di bawah 11 tahun perbedaannya sangat mencolok (Haryanto dan Pangloli, 1992). Menurut Rumalatu (1981) dalam Haryanto dan Pangloli (1992), perbedaan tinggi batang dari setiap jenis sagu pada tingkat umur dan lingkungan tergantung dari sifat genetis dan kemampuan pertumbuhannya. Jenis sagu yang memiliki sifat genetis dan daya adaptasi terhadap lingkungan yang baik akan memperlihatkan pertumbuhan yang baik pula.


  1. Pertambahan tinggi tanaman

Nilai rata-rata pertambahan tinggi tanaman pada perlakuan 8 m x 8 m dan 10 m x 10 m selalu naik dari bulan pertama sampai keempat dan tinggi tanaman pada perlakuan 10 m x 15 m tetap. (Gambar 2). Hal tersebut disebabkan oleh tingkatan partum-buhan tanaman yang berbeda.

Gambar 2. Pertambahan tinggi tanaman sagu

Pada perlakuan jarak tanam 8 m x 8 m dan 10 m x 10 m seluruh tanaman contoh telah berbatang, sedangkan pada perla-kuan jarak tanam 10 m x 15 m tidak ada satupun tanaman yang telah membentuk formasi batang.

Tabel 5. Pertambahan rata-rata tinggi tanaman sagu



Perlakuan

….............Pertambahan Tinggi Tanaman (BP) *)................




2

3

4

Jarak Tanam

……………………………(m)………………………….

8 m x 8 m

0.08

0.13

0.21

10 m x 10 m

0.13

0.17

0.27

10 m x 15 m

0.00

0.00

0.00

Keterangan : *) Nilai rata-rata setiap pengamatan dari bulan pengamatan kedua sampai keempat dikurangi dengan pengamatan pertama (pertam-bahan)

Nilai pertambahan rata-rata tinggi tanaman perlakuan 10 m x 10 m merupakan yang terbaik dibandingkan perlakuan 8 m x 8 m dan 10 m x 15 m. Pertambahan rata-rata tinggi tanaman perlakuan 8 m x 8 m dan 10 m x 10 m paling besar terjadi pada bulan keempat (0.08 m cm dan 0.10 m) (Tabel 5). Faktor yang mempengaruhinya adalah faktor umur tanaman. Tanaman pada perlakuan jarak tanam 8 m x 8 m rata-rata telah berumur 12-13 tahun, sedangkan tanaman pada perlakuan jarak tanam 10 m x 10 m berumur 9-10 tahun. Pada umur tanaman yang telah mendekati masa panen, pertumbuhan tanaman cenderung melambat dan stagnan. Begitu juga dengan tinggi tanaman yang akan melambat peningkatannya dibandingkan dengan tanaman yang lebih muda.


Lingkar Batang

  1. Lingkar batang aktual

Perlakuan jarak tanam 8 m x 8 m dan 10 m x 10 m menun-jukkan pengaruh tidak nyata terhadap lingkar batang dari BP 1 sampai BP 4. Kedua perlakuan tersebut tidak berpengaruh nyata terhadap perlakuan jarak tanam 10 m x 15 m dari BP 1 sampai BP 4 (Tabel 6).

Batang sagu terdiri atas lapisan kulit bagian luar yang keras dan bagian dalam berupa empulur yang mengandung serat-serat dan aci. Tebal kulit luar yang keras sekitar 3-5 cm (Haryanto dan Pangloli, 1992). Pada perlakuan 8 m x 8 m dan 10 m x 10 m lingkar batang tanaman sagu cukup besar, sehingga kandungan pati dalam batang menjadi lebih banyak. Pada perlakuan jarak tanam 10 m x 15 m tidak ada satupun tanaman yang telah berba-tang, sehingga tidak ada hasil yang dapat dimanfaatkan dari areal tersebut.


Tabel 6. Pengaruh jarak tanam terhadap lingkar batang tanaman sagu.


Perlakuan

…....................Lingkar Batang (BP).....................




1

2

3

4

Jarak Tanam

……………………..…(cm)………………………….

8 m x 8 m

135.74 a

136.77 a

136.87 a

136.96 a

10 m x 10 m

138.17 a

138.65 a

138.77 a

138.92 a

10 m x 15 m

0.00 b

0.00 b

0.00 b

0.00 b
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak beda nyata pada uji DMRT taraf 5%

Kerapatan tanaman penting diketahui untuk menentukan sa-saran agronomi, yaitu produksi maksimum (Jumin, 2006). Dari ketiga perlakuan, perlakuan jarak tanam 8 m x 8 m memiliki nilai rata-rata tinggi dan lingkar batang yang terbesar.



  1. Pertambahan lingkar batang

Perlakuan jarak tanam 8 m x 8 m memiliki nilai rata-rata pertambahan lingkar batang terbaik (1.02 cm) dibandingkan perlakuan jarak tanam 10 m x 10 m (0.48 cm) dan 10 m x 15 m (0 cm) pada bulan kedua (Tabel 7).

Tabel 7. Pertambahan rata-rata lingkar batang tanaman sagu



Perlakuan

…....Pertambahan Lingkar Batang Tanaman (BP) *).........




2

3

4

Jarak Tanam

…………………………..(cm).………………………….

8 m x 8 m

1.02

1.13

1.22

10 m x 10 m

0.48

0.60

0.75

10 m x 15 m

0.00

0.00

0.00

Keterangan : *) Nilai rata-rata setiap pengamatan dari bulan pengamatan kedua sampai keempat dikurangi dengan pengamatan pertama (pertam-bahan)

Pada bulan ketiga dan bulan keempat nilai rata-rata pertam-bahan lingkar batang perlakuan jarak tanam 10 m x 10 m (0.12 dan 0.10) lebih baik dibandingkan perlakuan 8 m x 8 m (0.11 dan 0.09) dan 10 m x 15 m (0.00 dan 0.00). Secara keseluruhan, dari bulan pertama sampai bulan keempat perlakuan jarak tanam 8 m x 8 m memiliki nilai rata-rata pertambahan lingkar batang terbaik (1.22) (Tabel 7).



Gambar 3. Pertambahan lingkar batang tanaman sagu



Jumlah Daun

  1. Jumlah daun aktual

Ketiga perlakuan yang diujikan, yaitu jarak tanam 8 m x 8 m, 10 m x 10 m, dan 10 m x 15 m menunjukkan pengaruh nyata terhadap jumlah daun dari BP 1 sampai BP 4. Perlakuan 10 m x 10 m memiliki nilai rata-rata tertinggi dan perlakuan 10 m x 15 m memiliki nilai rata-rata terendah. Nilai rata-rata perlakuan 10 m x 15 m selalu meningkat setiap bulannya tidak seperti perlakuan jarak tanam 8 m x 8 m dan 10 m x 10 m. Pada perlakuan 10 m x 10 m nilai rata-rata mengalami penurunan pada BP 4. Untuk perlakuan 8 m x 8 m nilai rata-ratanya sangat fluktuatif. Nilai rata-ratanya turun pada BP 2 dan kembali naik pada BP 3 walaupun nilai rata-ratanya tidak sebesar BP 1. Pada BP 4 nilai rata-ratanya kembali turun dan bahkan lebih rendah dari BP 2 (Tabel 8).

Tabel 8. Pengaruh jarak tanam terhadap jumlah daun tanaman sagu.




Perlakuan

…....................Jumlah Daun (BP).....................




1

2

3

4

Jarak Tanam

………………………..satuan………..……………..

8 m x 8 m

11.73 b

11.13 b

11.47 b

11.07 b

10 m x 10 m

13.27 a

13.77 a

14.00 a

13.27 a

10 m x 15 m

6.47 c

6.83 c

6.67 c

7.03 c
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak beda nyata pada uji DMRT taraf 5%

Perbedaan nilai rata-rata pada ketiga perlakuan selain disebabkan oleh faktor jarak tanam juga disebabkan oleh bebera-pa faktor lain seperti pemeliharaan kebun, umur tanaman, dan keadaan tanah. Tanaman sagu pada tanaman perlakuan 10 m x 15 m merupakan tanaman sagu muda, tidak seperti tanaman sagu pada perlakuan 8 m x 8 m dan 10 m x 10 m. Tanaman sagu muda jumlah daunnya lebih sedikit dibandingkan dengan tanaman sagu tua. Rumalatu (1981) dalam Haryanto dan Pangloli (1992) me-nyatakan, tanaman sagu yang masih muda memiliki jumlah daun yang lebih sedikit jumlahnya yaitu 12-15 buah.

Kondisi tanah areal perlakuan ketiga perlakuan pun berbeda. Tanah pada ketiga perlakuan termasuk golongan tanah organosol (gambut), namun pada perlakuan jarak tanam 10 m x 10 m ketebalan gambut lebih dangkal. Pada kondisi tersebut jarak perakaran ke tanah liat menjadi lebih pendek sehingga jumlah daun menjadi lebih banyak. Menurut Rumalatu (1981) dalam Haryanto dan Pangloli (1992), sagu yang tumbuh pada tanah liat dengan penyinaran yang baik pada umur dewasa memiliki 18 tangkai daun/daun.


  1. Pertambahan jumlah daun

Pertambahan rata-rata pada perlakuan jarak tanam 8 m x 8 m, 10 m x 10 m, dan 10 m x 15 m menunjukkan nilai yang fluktuatif. Perlakuan jarak tanam 8 m x 8 m selalu menunjukkan nilai pertambahan rata-rata terendah dibandingkan perlakuan jarak tanam 10 m x 10 m dan 10 m x 15 m (Gambar 4).

Gambar 4. Pertambahan jumlah daun tanaman sagu

Jumlah daun pada perlakuan jarak 8 m x 8 m cenderung menurun. Pada perlakuan jarak tanam 10 m x 10 m jumlah daun sempat naik, namun pada bulan keempat nilai rata-rata jumlah daun sama dengan nilai rata-rata bulan pertama. Nilai rata-rata pertambahan perlakuan 10 m x 15 m cenderung naik, walaupun pada bulan ketiga sempat turun.

Ketiga kondisi di atas terjadi karena beberapa faktor, yaitu faktor partumbuhan tanaman dan faktor lingkungan. Pertum-buhan tanaman yang lambat berdampak pula pada pembentukan daun tanaman. Jumlah daun baru yang tumbuh tidak lebih ba-nyak dari jumlah daun yang mati. Hal tersebut mengakibatkan kemampuan tanaman dalam membentuk daun berkurang.

Kondisi lingkungan di kebun selalu berubah-ubah setiap waktuya. Pada saat pengamatan diketahui terdapat beberapa ta-naman contoh yang daunnya tumbang karena angin kencang. Tumbangnya daun mengurangi kemampuan tanaman dalam ber-fotosintesis.


KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan

Peralihan pengelolaan perusahaan dari PT. National Timber And Forest Product And Forest Product Unit HTI Murni Sagu ke PT. Sampoerna Tbk. memberikan perkembangan positif pada pengelolaan perusahaan. Kegiatan pemeliharaan kebun di PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu telah dilakukan kembali walaupun belum maksimal.

Pengaturan jarak tanam di PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu terdiri atas tiga yaitu jarak 8 m x 8 m, 10 m x 10 m, dan 10 m x 15 m. Pengaruh penggunaan jarak tanam yang berbeda pada beberapa blok menunjukkan pengaruh yang berbeda. Pada perlakuan jarak tanam 8 m x 8 m tanaman sagu banyak yang tumbuh, namun areal pertanaman sagu banyak ditumbuhi oleh gulma dari jenis pakis dan tumbuhan semak serta sedikit ditumbuhi pohon. Tanaman sagu pada perlakuan jarak tanam 10 m x 10 m sedikit yang tumbuh dan gulma lebih dido-minasi oleh pohon berdiameter sedang (10-30 cm). Pada perla-kuan jarak tanam 10 m x 15 m banyak tanaman sagu yang mati karena kalah bersaing dengan gulma. Gulma yang tumbuh sangat rapat dan bervariasi jenisnya.
Saran

Ketegasan dalam perusahaan perlu ditingkatkan untuk mencegah adanya pelanggaran yang dilakukan oleh karyawan. Penetapan hari libur bagi karyawan harus jelas agar tidak mengganggu kegiatan operasional perusahaan. Koordinasi antar Asisten Divisi harus rutin dilakukan untuk mencegah terjadinya persaingan tidak sehat diantara karyawan.

Apabila akan dilakukan kegiatan penanaman sebaiknya digunakan jarak tanam 8 m x 8 m. Berdasarkan hasil pengamatan kondisi lingkungan dan pertumbuhan tanaman sagu pada areal dengan jarak tanam 8 m x 8 m lebih baik dibandingkan dengan jarak tanam 10 m x 10 m dan 10 m x 15 m. Jarak tanam yang lebih sempit akan mengurangi ruang bagi gulma untuk tumbuh, sehingga persaingan antara tanaman sagu dan gulma dapat dikurangi.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Manajemen dan Organisasi. http://kom-si.staff.gunadarma.ac.id. [09 Juli 2009].

Bintoro, H. M. H. 2008. Bercocok Tanam Sagu. IPB Press. Bogor. 71 hal.

Haryanto, B. dan P. Pangloli.1992. Potensi dan Pemanfaatan Sagu. Kanisus. Yogya-karta. 139 hal.

Najiyati, S, L. Muslihat dan I N. N. Suryadiputra. 2005. Panduan Pengelolaan Lahan Lahan Gambut Untuk Pertanian Ber-kelanjutan. Proyek Climate Change, Forest and Peatlands in Indonesia. Wetlands International – Indonesia Pro-gramme and Wildlife Habitat Canada. Bogor. Indonesia. 241 hal.

Sitaniapessy, P. M. 1996. Sagu : Suatu Tinjauan Ekologi. Prosi-ding Simposium Nasional Sagu III : 57-69.




Lampiran 1. Jumlah tanaman yang hidup dan jenis-jenis gulma yang tumbuh di blok pengamatan pengaruh pengaturan jarak tanam

No.

Perlakuan

Jenis Gulma yang Tumbuh

1.

8 m x 8 m







Blok M24 (Ul 1)

Didominasi oleh pakis. Tumbuh juga pohon geronggang (Cratoxylon formosum Dyer), dan beberapa jenis pohon berdia-meter 10-30 cm.




Blok N24 (Ul 2)

Didominasi oleh pakis. Tumbuh juga beberapa jenis pohon berdiameter 10-30 cm




Blok O24 (Ul 3)

Didominasi oleh pakis. mahang (Macaranga sp.), dan beberapa jenis pohon berdiameter 10-30 cm.

2.

10 m x 10 m







Blok A32 (Ul 1)

Didominasi oleh gulma pohon seperti pohon mahang (Macaranga sp.), geronggang (C. formosum Dyer), dan meranti (Shorea sp.). Terdapat juga pakis, salak hutan (Salacca conferta Griff.), dan kantung semar (Nephentes sp.).




Blok B33 (Ul 2)

Didominasi oleh gulma pohon seperti pohon mahang (Macaranga sp.), geronggang (C. formosum Dyer), dan meranti (Shorea sp.). Terdapat juga pakis dan salak hutan (S. conferta Griff.)




Blok A33 (Ul 3)

Didominasi oleh gulma pohon seperti pohon mahang (Macaranga sp.), geronggang (C. formosum Dyer), meranti (Shorea sp.), dan salak hutan (S. conferta Griff.)

3.

10 m x 15 m







Blok R10 (Ul 1)

Jenis gulma terdiri atas pakis, salak hutan (S. conferta Griff.), palem merah (Cyrtostachys lakka Becc.), palas (Licuala paludosa Griff.), sirih hutan (Piper caducibracteum C.DC), dan beberapa jenis pohon berdiameter sedang sampai besar (≥30 cm).




Blok Q11 (Ul 2)

Didominasi oleh pohon berdiameter sedang sampai besar (≥30 cm). Terdapat juga pakis, salak hutan (S. conferta Griff.), palem merah (C. lakka Becc.), palas (L. paludosa Grif), sirih hutan (P. caducibracteum C.DC), dan kantung semar (Nephentes sp.).




Blok Q10 (Ul 3)

Jenis gulma terdiri atas pakis, salak hutan (S. conferta Griff.), palas (Licuala paludosa Griff.), palem merah (C. lakka Becc.), sirih hutan (Piper caducibracteum C.DC), dan beberapa jenis pohon berdiameter sedang sampai besar (≥30 cm).

Sumber : *) Data Tanaman Sagu Tahun 2008 PT. National Timber And Forest Product Unit HTI Murni Sagu





База данных защищена авторским правом ©shkola.of.by 2016
звярнуцца да адміністрацыі

    Галоўная старонка