Nilaparvata lugens stal. (Homoptera: delphacidae)




Дата канвертавання21.04.2016
Памер72.38 Kb.


AGRIVITA VOLUME 31 No. 3 OKTOBER-2009 ISSN : 0126-0537


    BIOLOGI ANAXIPHA LONGIPENNIS SERVILLE (ORTHOPTERA: GRYLLIDAE)

    SEBAGAI PEMANGSA WERENG COKLAT, NILAPARVATA LUGENS STAL.

    (HOMOPTERA: DELPHACIDAE)

    (BIOLOGY OF THE SILENT LEAF RUNNER ANAXIPHA LONGIPENNIS SERVILLE (ORTHOPTERA: GRYLLIDAE) A PREDATOR OF BROWN PLANT HOPPER NILAPARVATA LUGENS STAL (HOMOPTERA: DELPHACIDAE))

    Sri Karindah1*), Dian Agus Pratomo1), dan Suharsono2)



    1* ) Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang Jl. Veteran Malang

  1. Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian

    Jl. Raya Kendalpayak P.O. Box. 66 Malang



ABSTRACT
The silent leaf runner Anaxipha longipennis Serville is a natural enemies in rice ecosystem. The biological aspect (life cycle and its predation) of A. longipennis was studied using brown plant hopper as prey maintained in IR 64 rice veriety in the laboratory. The research showed that the life cycle of A. longipennis spent 40-50 days. The average longevity of adult females and males were 34 and 29 dayas, respectively, whilst there was 20% and 40% of mortality in the fourth instar respectively. The immature stages sustained about 80% mortality before adult emergence. The female fecundity was averaged 38.4 eggs during her lifetime and the average of egg hatched percentage was 78.25%. The first and second nymph of A. longipennis consumed 2.46 and 4.54 first instar of brown plant hopper nymphs per day, respectively. Whereas the third nymph,fourth nymph, female and male cricket consumed the second instar of brown plant hopper nymphs 6.39, 9.61,18.54 and 14.76 per day, respectively. Preying activity was more during night time rather than in the day time.

Based on the results of this research could be concluded that as a predator of the rice pest especially for brown olant hopper, the potential and the exixtence of the predator A. longipennis need more attention.

Keywords: Anaxipha longipennis, biology, predation potential, generalist predator




    ABSTRAK



A
Terakreditasi B, SK No. : 65a/DIKTI/Kep/2008
naxipha longipennis
Serville merupakan agens hayati yang ditemukan pada ekosistem pertanaman padi. Aspek biologi A. longipennis meliputi daur hidup dan daya mangsanya dikaji dengan menggunakan wereng coklat sebagai mangsa yang dipelihara pada padi IR 64 di laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daur hidup A. longipennis berkisar antara 40-50 hari. Lama hidup Dewasa betina adalah 34 hari dan jantan selama 29 hari. Akibat adanya kematian selama perkembangan nimfa mulai instar 1 sampai instar 4 pada tiap-tiap stadia menyebabkan A. longipennis mengalami penurunan. Telur dan nimfa instar 1 mengalami kematian sebesar 20% dan 40%, sedangkan pada instar 3 dan 4 terjadi kematian sampai 20%. Stadia muda dari jengkerik mengalami kematian rata-rata sebesar 80% sampai menjadi jengkerik dewasa. Jumlah telur yang dihasilkan A. longipennis betina selama hidupnya rata-rata 38.4 butir dengan daya tetas rata-rata sebesar 72,25 %. Nimfa instar 1 dan 2 A. longipennis rata-rata memangsa wereng coklat nimfa instar 1 sebanyak 2.46 ekor/hari dan 4.54 ekor/hari. Sedangkan nimfa instar 3, instar 4, dewasa betina dan dewasa jantan memangsa wereng coklat nimfa instar 2 masing-rata-rata sebanyak 6.39 ekor/hari, 9.61 ekor/hari, 18.54 ekor/hari dan 14.76 ekor/hari. Hasil penelitian menunjukkan komponen pengendalian hama padi khususnya untuk hama wereng coklat potensi dan keberadaan predator perlu dipertimbangkan.
Kata kunci: Anaxipha longipennis , biologi, daya mangsa, predator generalis


    PENDAHULUAN



Anaxipha longipennis Serville (Orthoptera: Gryllidae) adalah salah satu predator generalis yang ditemukan pada ekosistem pertanaman padi. Pada habitat tersebut jengkerik ini merupakan predator yang efektif untuk telur lepidoptera dan nimfa wereng padi (Heong, 1986). Anaxipha sp. dan Mettioche vittaticollis (Stal) dikenal sebagai predator telur ulat grayak Mythimna separata, penggerek batang Chilo suppresalis (Rubia and Shepard, 1987) Chilo polychrysus, Spodoptera litura, Hydrelia sasaki (Shepard, Barrion and Litsinger, 1994), telur serangga pelipat daun Cnaphalocrosis medinalis (de Kraker, 1996) dan predator nimfa wereng padi (Rubia and Shepard, 1987; Shepard et al., 1994). Hasil penelitian Heong (2002) menunjukkan bahwa, pada habitat yang didominasi gulma Paspalum conjugatum banyak ditemukan jengkerik A. longipennis dan Metioche vittaticollis yang hidup bersama-sama. Jengkerik ini tergolong dalam subfamili Trigonidiinae, famili Gryllidae dan ordo Orthoptera (CSIRO, 1970).

de Kraker (1996) menyatakan bahwa selama di pertanaman padi, A. longipennis dan M vittaticolis aktif memangsa telur hama penggulung daun (Cnaphalocrosis medinalis) lebih dari 90 %. Heong (1991 dalam de Kraker, 1996) menambahkan bahwa kemampuan predasi jengkerik A. longipennis dan M. Vittaticolis cukup besar sehingga mampu menurunkan jumlah telur hama pelipat daun Cnaphalocrocis dan Marasmia patnalis. Kedua predator generalis ini mempunyai kemampuan predasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan Conocephalus longipenis Micraspis sp., Ophionea sp., dan Paederus sp. (de Kraker et al., 2000).

Di Indonesia A. longipennis sebagai salah satu predator generalis, belum banyak dipelajari. Dalam rangka memanfaatkan A. longipennis sebagai agens hayati untuk wereng coklat, pengetahuan tentang biologi jengkerik ini diperlukan. Dengan pengetahuan tersebut diharapkan A. longipennis dapat dimanfaatkan secara optimal, khususnya untuk pengendalian wereng coklat pada pertanaman padi. Peneltian ini bertujuan untuk mengkaji aspek biologi jengkerik yang meliputi daur hidup, lama hidup dan morfologi, jumlah dan daya tetas telur, serta daya mangsa A. longipennis terhadap wereng coklat.

BAHAN DAN METODE
Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Entomologi, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, mulai bulan Februari sampai Juli 2004. Untuk persiapan penelitian yang dilakukan adalah memperbanyak A. longipennis dan wereng coklat sebagai pakan. Perbanyakan wereng coklat dilakukan dengan memelihara wereng coklat pada semaian tanaman padi varietas IR 64. A. longipennis yang diperoleh dari pertanaman padi di Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang, dipelihara dalam sangkar berukuran 40 cm x 25 cm yang berisi tanaman padi berumur 20 hari setelah tanam. Untuk pemeliharaan A. longipennis diberi pakan wereng coklat, telur Corcyra cephalonica dan parutan wortel sebagaimana yang dilakukan oleh Rubia dan Shepard (1987) untuk pembiakan A. longipennis dan Mettioche vittaticollis. A. longipennis dipelihara sampai bertelur, sampai menghasilkan generasi F1 yang akan digunakan untuk pengamatan biologi.

Dewasa generasi F1 hasil perbanyakan di laboratorium, digunakan untuk pengamatan biologi dengan cara memelihara A. longipennis betina dan jantan secara berpasangan dalam tabung plastik berukuran panjang 25 cm dan diameter 8 cm, yang diberi rumpun padi berumur 2 minggu setelah tanam (mst). Setiap hari diberi pakan wereng coklat nimfa instar 2 atau 3 sebanyak 20 ekor. Selama dipasangkan, waktu pra-oviposisi dan jumlah telur yang dihasilkan A. longipennis betina diamati setiap hari. Batang padi yang telah diteluri, diletakkan dalam cawan petri berdiameter 14 cm, yang diberi kerta tisu basah untuk menjaga kelembaban dan dipelihara sampai telur menetas dan kemudian dihitung jumlah telur yang menetas.

Nimfa-nimfa yang telah dihasilkan, dipelihara dan dihitung umur dan daya mangsanya. Nimfa instar 1 dipelihara pada cawan petri (diameter 10 cm), yang diisi beberapa batang padi yang bagian akarnya dibungkus dengan kapas basah dan diberi pakan 20 ekor nimfa wereng coklat instar 1. Setelah nimfa instar 2 menjadi instar 3, dipindahkan ke dalam tabung plastik yang berukuran tinggi 25 cm dan diameter 8 cm, diberi pakan 2 rumpun padi berumur 2 minggu setelah tanam (mst). Pakan yang diberikan adalah wereng coklat instar 2 sebanyak 20 ekor/hari. Pada pemeliharaan untuk diamati biologinya jengkerik hanya diberi wereng coklat saja. Kegiatan ini dilakukan sampai A. longipennis menjadi dewasa. Selama pemeliharaan diamati morfologi nimfa, lama masing-masing instar dan sintasan (survival rate). Selama pemeliharaan, pemberian pakan dilakukan dua kali setiap hari, yaitu pada pukul 06.00 WIB dan jam 18.00 WIB. Pada waktu pemberian pakan dilakukan penghitungan sisa pakan dari jumlah pakan yang diberikan setiap harinya, untuk mengetahui jumlah mangsa yang diperlukan A. longipennis selama perkembangannya pada setiap stadia. Pengamatan terhadap daya mangsa jengkerik dewasa generasi F2 dilakukan selama 10 hari sejak jengkerik menjadi dewasa muda.


HASIL DAN PEMBAHASAN



Biologi A. longipennis

Telur A. longipennis disisipkan secara berderet vertikal pada batang padi, dan sebagian dari telur nampak dari luar. Telur berbentuk silinder, terdapat kait pada ujungnya sebagai alat untuk menempel pada jaringan tanaman (Gambar 1). Telur yang baru diletakkan berwarna putih transparan, halus dan kelihatan mengkilat, panjangnya 1-1.5 mm (Tabel 1). Telur yang sudah tua berubah menjadi kuning bening dan sudah kelihatan bintik kehitaman yamg merupakan calon mata (Gambar 2). Pada saat akan menetas warna telur berubah menjadi kuning kecoklat-coklatan. Stadia telur rata-rata berlangsung 16.2 ± 0.35 hari (Tabel 2).

Pada saat baru muncul nimfa berwarna putih transparan. Pada hari ke-3 mulai pada bagian punggung (dorsal) nampak terdapat 2 garis kekuning-kuningan yang memanjang mulai dari kepala sampai abdomen. Nimfa instar 1 yang baru keluar gerakannya lamban. Dari pengamatan visual diketahui bahwa gerakan nimfa instar 2 lebih cepat daripada instar 1. Pada saat baru berganti kulit tubuhnya berwarna kuning bening, tidak terdapat garis–garis pada tubuhnya. Setelah berumur 3 hari mulai nampak garis-garis kuning tua pada kepala yang memanjang sampai abdomen. Nimfa pada awal instar tiga berwarna kuning cerah, setelah 2 hari warna tubuhnya menjadi kuning kecoklat-coklatan dengan dua garis sejajar kuning tua dari kepala sampai abdomen. Bakal sayap sudah nampak dengan ukuran yang pendek (± 0.05 mm). Pada nimfa betina sudah muncul ovipositor dengan ukuran yang pendek dan kelihatan masih lemas. Bagian dorsal abdomen terdapat rambut-rambut yang tebal. Nimfa instar empat warnanya kuning kecoklat-coklatan, bakal sayapnya lebih panjang daripada nimfa instar 3 dan sudah menutupi setengah dari abdomennya. Pada nimfa betina ovipositor terlihat jelas, lebih panjang dan kelihatan lebih kaku dengan warna coklat gelap. Kepala dan tubuh stadia dewasa berwarna kuning cerah sampai kuning tua dengan sayap yang lebih panjang daripada nimfa instar 4 dan menutupi seluruh bagian abdomen. Semua kaki berwarna putih sampai kuning. Duri pada femur lebih keras dan kaku. Tibia seluruhnya berwarna kuning. Rerata ukuran nimfa instar 1 sampai dengan instar 4 disajikan pada Tabel 1 dan 2.

Stadia dewasa A. longipennis berwarna kuning dan terdapat dua bentuk, yaitu dewasa bersayap pendek dan dewasa bersayap panjang (Barrion dan Litsinger, 1994). Dewasa yang bersayap panjang mempunyai sayap depan berukuran hampir dua kali panjang abdomennya. Perbedaan A. longipennis dewasa betina dan dewasa jantan selain ditandai oleh ada tidaknya ovipositor juga dapat dilihat dari adanya perbedaan corak sayap. Pada sayap A. longipennis betina dewasa terdapat 5 vena lurus membujur sejajar, sedangkan pada sayap jantan terdapat beberapa vena melingkar yang berbentuk oval (Gambar 3). Jengkerik jantan dapat mengerik untuk menarik betina (de Kraker, 1996).

Sintasan A. longipennis dari telur sampai menjadi dewasa disajikan pada Gambar 4. Sintasan A. longipennis mengalami penurunan seiring dengan perkembangannya. Stadia nimfa instar 1 nilai sintasannya tidak dapat mencapai 100 %, diduga karena terdapat telur yang rusak akibat pembedahan, sehingga telur tidak dapat menetas. Jumlah nimfa instar 2 sampai instar 4 terus menurun, karena adanya kematian instar pada saat pergantian kulit yang tidak sempurna. Namun, dari nimfa instar 4 sampai menjadi dewasa jumlahnya tidak mengalami penurunan. Hal ini disebabkan karena pada tahap tersebut nimfa-nimfa yang lebih tua memiliki daya adaptasi dengan lingkungan yang lebih baik dibandingkan dengan tahap sebelumnya dan proses ganti kulit terjadi secara sempurna, seperti yang terjadi pada Mettioche vittaticollis. Rubia dan Shepard (1987) menyatakan bahwa persen kematian nimfa instar 4 dan imago M. vittaticollis lebih rendah daripada nimfa-nimfa muda.

Tabel 1. Ukuran panjang tubuh dan antena A. longipennis



(Table 1. The average of body and antennal length of A. longipennis)


Stadia (Stadium)

Rerata Panjang (mm)

± SE (n = 20)



(Average of body length)

Rerata Panjang Antena (mm) ± SE (n = 20) (Average of antennal length)

Telur (Eggs)

Nimfa instar 1 (Nymph 1)

Nimfa instar 2 (Nymph 2)

Nimfa instar 3 (Nymph 3)

Nimfa instar 4 (Nymph 4)

Dewasa Betina (Female adult)

Dewasa Jantan (Male adult)




1.2 ± 0.170

1.4 ± 0.024

2.1 ± 0.054

3.1 ± 0.053

4.4 ± 0.053

5.0 ± 0.025

5.9 ± 0.029


-

2.26 ± 0.049

4.08 ± 0.054

6.08 ± 0.083

7.90 ± 0.083

8.20 ± 0.105

8.33 ± 0.105











1 mm





Gambar 1 a) Telur A. longipennis pada Batang padi, b) bekas luka tusukan ovipositor (Peresaran 40X)

(Figure 1. a) Inserted Eggs of A. longipennis on rice, b) a wound caused by ovipositor)



Gambar 2. Telur A. longipennis yang hampir menetas

(Figure 2. Nearly hatched egg of A. longipennis)




Gambar 3. Imago betina dan jantan A. longipennis bersayap pendek

(Figure 3. Female (f) and male (g) of short winged A. longipennis)

Tabel 2. Rata-rata waktu perkembangan dan daya mangsa A. longipennis pada nimfa wereng coklat



(Table 2. The average of developmental period and predation of A. longipennis on brown plant hopper nymphs)

Stadia

(Stadium)

N

Fase perkembangan

(hari) ± SE (Developmental period (days) ± SE)



Jumlah mangsa

(Number of preys)

Rerata daya mangsa (ekor)

± SE


(Average of prey consumed (prey) ± SE)

Telur

36

16.2 ± 0.35

-

-

Nimfa Instar 1

29

7.4 ± 0.17

20 instar 1

2.46 ± 0.09

Nimfa Instar 2

21

7.6 ± 0.14

20 instar 1

4.54 ± 0.09

Nimfa Instar 3

17

8.3 ± 0.23

20 instar 2

6.39 ± 0.09

Nimfa Instar 4

15

8.4 ± 0.19

20 instar 2

9.61 ± 0.08

Dewasa Betina

8

34 ± 0.38

20 instar 3

18.54 ± 0.08

Dewasa Jantan


7


29 ± 0.38


20 instar 3


14.76 ± 0.08




Gambar 4. Grafik sintasan A. longipennis

( Figure 4. The survival rate curve of A. longipennis)

Gambar 5. Grafik rata-rata harian jumlah telur yang di letakkan A. longipennis

Figure 5. The average daily number of laid eggs of A. longipennis
Tabel 3. Rerata lama hidup dewasa, praoviposisi, jumlah telur yang diletakkan dan presentase tetas telur A. longipennis di laboratorium

(Table 3. The average of adult longevity, preoviposition period, number of laid eggs and percentage of hatched eggs in the laboratory)


Lama hidup Dewasa Betina

(Female longevity)

35.30 a ± 0.30 hari (days)

Lama hidup Dewasa Jantan

(Male longevity)

30.30b ± 0.80 hari (days)

Praoviposisi (Preoviposition)

10.30 ± 0.30 hari (days)

Jumlah telur (Number of of eggs)

38.40 ± 0.80 butir (eggs)

Daya tetas telur (Percentage of hatched egg)

72.25 ± 3.00 %



Rata-rata lama hidup dewasa, praoviposisi betina, jumlah telur yang diletakkan dan persentase tetas telur A. longipennis di sajikan pada Tabel 3. Hasil analisis uji t menunjukkan bahwa umur A. longipennis betina berbeda nyata dengan umur jengkerik jantan (p=0.001). A. longipennis betina dewasa lama hidupnya rata-rata 35.3 hari sedangkan dewasa jantan rata-rata 30.3 hari. Sesuai dengan hasil penelitian Dixon (2000) bahwa pada kondisi laboratorium umumnya lama hidup serangga jantan lebih pendek daripada betina. Serangga jantan biasanya mempunyai aktivitas yang lebih tinggi di awal masa dewasa untuk mencari pasangan dan kawin selain untuk mendapatkan makanan, aktivitas tersebut membutuhkan energi lebih dan harus dibayar dengan berkurangnya lama hidup

Waktu oviposisi rata-rata dimulai pada hari ke-10 setelah dipasangkan, dan periode bertelur rata-rata berlangsung selama 17 hari dihitung mulai hari pertama oviposisi (Gambar 5). Jumlah telur A. longipennis betina yang diletakkan setiap hari selama periode oviposisi tidak tetap, yaitu antara 1-4 butir per hari. Selama periode 27 hari sejak dipasangkan A. longipennis betina dapat terus bertelur, dan periode bertelur berhenti mulai pada hari ke-28 sejak dipasangkan sampai A. longipennis betina mati.

Selama pengamatan biologi A. longipennis dari nimfa instar 1 sampai menjadi dewasa, juga diamati daya mangsa harian masing-masing stadia. Rerata daya mangsa A. longipennis mulai dari stadia nimfa instar 1-dewasa terhadap wereng coklat nimfa instar 1 dan 2 dapat dilihat pada Gambar 6. A. longipennis instar 1 yang berlangsung ± 7 hari, pada umur 1 hari belum aktif memangsa. Pada umur 2 hari mulai aktif memangsa dan daya mangsanya terus meningkat sampai umur 5 hari, lalu terjadi penurunan daya mangsa pada hari ke-6 dan ke-7 menjelang terjadi perubahan ke instar 2. Setiap hari nimfa instar 1 rata-rata memangsa 2.46 ± 0.09 ekor wereng coklat instar 1. Instar 2 yang berlangsung ± 7 hari, pada awal instar sudah aktif memangsa jika dibandingkan dengan awal dari nimfa instar 1. Daya mangsa nimfa instar 2 tertinggi adalah pada umur 4 hari sejak menjadi instar 2 dan menurun mulai hari ke-5 sampai hari ke-7, setiap hari rata-rata memangsa 4.54 ± 0.09 ekor wereng coklat instar 1. Nimfa instar 3 berlangsung ± 8 hari. Pada hari ke-1 sudah aktif memangsa, dan terus meningkat sampai hari ke-3 dan mulai menurun pada hari ke-4. Peningkatan daya mangsa terjadi kembali pada hari ke-5, pada pada hari ke-6 mengalami penurunan sampai umur 8 hari. Setiap hari nimfa instar 3 rata- rata mampu memangsa 6.39 ± 0.09 ekor wereng coklat instar 2. Sedangkan nimfa instar 4 yang juga berlangsung ± 8 hari daya mangsa antara betina dan jantan berbeda. Pada hari ke-1 menjadi instar 4 daya mangsa antara betina dan jantan sama, tetapi pada hari berikutnya terjadi peningkatan daya mangsa di antara nimfa jantan dan betina. Daya mangsa nimfa instar 4 betina meningkat pada hari ke-2 sampai hari ke-5 dan nampak sedikit lebih tinggi daripada instar 4 jantan. Penurunan daya mangsa pada nimfa instar 4 ini terjadi pada hari ke-7 dan hari ke-8 dengan betina lebih banyak daripada jantan. Rerata jumlah mangsa yang dikonsumsi nimfa instar 4 jantan atau betina adalah 9.61 ± 0.08 nimfa wereng coklat instar 2.

Pada percobaan ini pengamatan daya mangsa terhadap stadia dewasa baik betina maupun jantan hanya dilakukan selama 10 hari. Sejak hari ke-1, baik betina maupun jantan dewasa sudah menampakkan daya mangsa yang tinggi dua kali lipat, dibandingkan dengan stadia nimfa (Tabel 2). Pada perkembangan selanjutnya daya mangsa betina dewasa lebih tinggi dibandingkan jantan dewasa, masing-masing adalah 18.54 ± 0.08 dan 14.76 ± 0,08. Hal ini disebabkan karena dewasa betina mempunyai ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan jantan dan membutuhkan konsumsi protein yang banyak dari makanannya yang mendukung kemampuan bertelurnya (Chapman, 1972 dan Obryecki et al., 2002). Secara umum terlihat bahwa meningkatnya stadia perkembangan nimfa diikuti peningkatan daya mangsa A. longipennis. Peningkatan stadia menyebabkan ukuran tubuh jengkerik semakin besar. Selain itu, semakin tinggi tingkatan stadia A. longipennis, aktivitas dan gerakannya semakin tinggi, sehingga kebutuhan pakan juga meningkat untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang digunakan untuk pertumbuhannya (Dixon, 2000).

Pengamatan daya mangsa A. longipennis pada stadia nimfa instar 1 sampai menjadi dewasa, menunjukkan aktifitas memangsa yang berbeda di antara rentang waktu pagi-petang hari dengan petang-pagi hari (Gambar 7). Daya mangsa pada rentang waktu jam 18.00-06.00 WIB lebih tinggi daripada rentang waktu jam 06.00-18.00 WIB. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa aktifitas jengkerik predator dipengaruhi oleh intensitas cahaya. Jengkerik predator termasuk juga A. longipennis tidak menyukai intensitas cahaya yang terang. Dua jenis jengkerik predator M. vittaticolis dan A. longipennis sangat aktif mencari mangsa pada saat matahari mulai tenggelam dan pada saat menjelang terbit (Saunder, 1982 dalam de Kraker, 1996).




Gambar 6. Rerata daya mangsa setiap stadium A. longipennis

(Figure 6. The average number curve of preyed upon each stadium of A.longipennis)

Gambar 7. Daya mangsa A. longipennis terhadap nimfa wereng coklat selama pagi-petang dan petang-pagi



(Figure 7. The average number curve of preyed upon by A. longipennis during the day and night period)



KESIMPULAN


  1. Daur hidup A. longipennis berkisar antara 40-50 hari.

  2. Daur hidup A. longipennis betina dewasa lebih lama dibanding jantan dewasa.

  3. Laju kematian A. longipennis dapat terjadi pada setiap instar, sehingga nilai sintasan nimfa instar 1 sampai menjadi dewasa juga menurun.

  4. Daya mangsa A. longipennis meningkat sejalan dengan perkembangan dan umur nimfa.

  5. Jumlah telur yang dihasilkan A. longipennis betina selama hidupnya rata-rata 38.4 butir dengan daya tetas telur rata-rata sebesar 72.25 %.

  6. Aktifitas memangsa dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari, khususnya pada sore dan malam hari aktifitas memangsa lebih tinggi daripada pagi hari.


SARAN
Melihat potensi A. longipenis sebagai predator telur dan serangga kecil perlu diperhatikan kelestarian predator ini di habitat sawah. Penelitian tentang tempat perkembangbiakan serangga ini penting dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

Barrion, A.T. dan J.A. Litsinger. 1994. Taxonomy of rice insect pests and their arthropod parasites and predators. In: Biology and management of rice insects. Manila (Philippines): International Rice Research Institute. p 13-362.

Chapman, R. F. 1982. The Insect Structure and Function. English Language Book Society Edward Arnold. E A (Publisher) Ltd. 41 Bedford Squard London. WC. 1919 pp.

Commonwealth Scientific and International Research Organization (CSIRO). 1970. Insects of Australia: a textbook for students and research workers. Melbourne University Press, Victoria, Australia. 1029 pp.

de Kraker, J. 1996. The Potential of Natural Enemies To Suppress Rice Leaffolder Population. Wageningen Agricultural University. p. 65-153.

de Kraker, J., A. van Huis, J. C. van Lenteren, K. L. Heong dan R. Rabbinge. 2000.  Identity and Relative Importance of Egg Predators of Rice Leaffolders (Lepidoptera: Pyralidae). Biological Control. 19 (3): 215-222.

Dixon, A.F.G. 2000. Insect predator-prey dynamics. Ladybird beetles and biological control. Cambridge University Press. p. 36-66.

Heong, K. 1986. Arthropoda Diversity : Looking Beyond The Rice Field. http://www.irri.org/science.htm. diunduh pada 19 April 2003.

Heong, K. L. 2002. Arthropod diversity: looking beyond the ricefields. www.irri.org/ Science.htm. diunduh pada 21 Juni 2002.

Obrycki, J.J.,J.T. Maurie and A.T. Catherine. 2002. Prey Specialization in Insect Predators. IPM. University of Minnesota. New York. p. 2-8.

Rubia, E.G. and B.M. Shepard. 1987. Biology of Metioche vittaticollis (Stal.) (Orthoptera:Gryllidae), A Predator of Rice Pest. Entomology Department. The International Rice Research Institute. p. 60-64.

Shepard, B.M., A.T. Barion and J.A. Litsinger. 1994. Mitra Petani, Serangga Laba-laba dan Patogen Yang Membantu. Diterjemahkan oleh Kasumbogo Untung dan Samino Wirjosuharjo. Internacional Rice Research. 127 hlm.


References and further reading may be available for this article. To view references and further reading you must purchase this article.





База данных защищена авторским правом ©shkola.of.by 2016
звярнуцца да адміністрацыі

    Галоўная старонка