Avenged Sevenfold, Tennis Indoor Senayan, 07. 08. 2007 Written by Panji Rachmat




Дата канвертавання27.04.2016
Памер16.34 Kb.

Avenged Sevenfold, Tennis Indoor Senayan, 07.08.2007




Written by Panji Rachmat   

Monday, 27 August 2007

    Selasa, tepatnya tanggal 7 Agustus di tahun 2007, Jakarta kembali digoncangkan dengan kedatangan group band metal yang berasal dari California, tepatnya berada di daerah Huntington Beach, yaitu Avenged Sevenfold. Sekali lagi JAVA Musikindo berperan besar dalam mendatangkan artist ini ke Indonesia. Untuk sampai saat ini, Avenged Sevenfold, atau yang biasa kita kenal dengan sebutan A7X sudah mempunyai 3 album, dan 1 album EP. Dan mereka akan segera merilis album mereka yang keempat yang belum diberi nama.

    Band yang dibentuk pada tahun 1999 ini mempunyai perjalanan karir yang cukup mengesankan. Disaat mereka yang pada tahun itu baru berumur 18 tahun, sudah mengeluarkan album perdana mereka yang diberi judul “Sounding The 7th Trumpet”. Album perdana mereka ini direkam dan diproduksi dibawah bendera “Good Life recordings”. Pada album perdana mereka ini, A7X hanya beranggotakan 4 orang, yaitu :

• M.Shadows : Lead Vocals, Keyboard, Guitar (1999 – present)
• Synyster Gates : Lead Guitar, Piano, Additional Vocals (2001 – present)
• Zacky Vengeance : Rhythm Guitar, Additional Vocals (1999 – present)
• Johnny Christ : Bass Guitar, Additional Vocals (2002 – present)
• The Rev : Drums, Piano, Additional Vocals (1999 – present)

    Tidak lama setelah mereka mengeluarkan album perdana ini, Synyster Gates menyatakan bergabung dengan mereka. Setelah Synyster Gates bergabung dengan A7X, intro dari album tersebut, yang berjudul “To End The Rapture” direkam ulang dengan permainan gitar Synyster Gates, dan album ini di produksi ulang oleh record company yang berbeda, yaitu “Hopeless Records”.

    Sebelum mereka mengerjakan album kedua mereka, A7X mengalami pergantian pemain bass mereka. Justin Sane, yang bergabung dengan mereka pada tahun 1999, keluar dari A7X di tahun 2001. Digantikan oleh Daemon Ash, dan sayangnya lagi Daemon Ash tidak dapat bertahan lama. Di tahun 2002 Daemon Ash pun keluar dari A7X, dan digantikan oleh Johnny Christ sampai sekarang. Dan di tahun 2003 keluarlah album mereka yang kedua, yang diberi judul “Waking The Fallen”. Album ini mendapatkan tanggapan yang bagus dari Rolling Stone Magazine. Album ini juga diproduksi oleh “Hopeless Records”. Selang beberapa saat setelah itu, mereka menandatangani kontrak dengan “Warner Bros.”, dan album ketiga mereka yang berjudul “City Of Evil” yang beredar di pasaran pada tanggal 7 Juni 2005.

    Sebelum A7X naik keatas panggung, pembukaan dimulai oleh band Punk asal Yogyakarta, “Endank Soekamti”. Dengan membawakan 5 lagu, mereka dapat membakar semangat dan adrenaline penonton yang memadati Tennis Indoor Senayan pada malam itu. Atraksi yang dimulai oleh pemain drumnya, dengan mengibarkan bendera merah putih di atas panggung, dan aksi pengecatan nama Indonesia di atas kain putih yang dibentangkan, membuat para penonton semakin bersemangat. Dengan membawakan lagu “Pejantan Tambun” sebagai lagu terakhir, mereka menutup aksi mereka.

    Tetapi, setelah Endank Soekamti turun panggung, penampilan artist utama yang dijadwalkan setengah jam setelah mereka mengalami gangguan teknis. Jadwal penampilan dari A7X mengalami kemunduran sekitar 45 menit. Dan ini sangat membuat penonton tidak sabar menunggu mereka. Panitia berusaha menghibur penonton dengan memutarkan lagu – lagu penyemangat yang beralirankan metal, dan pemutaran iklan – iklan di TV berukuran Big Screen yang terletak di sebelah kanan dan kiri panggung.

    Setelah ini semua terjadi dan terlewati, akhirnya yang ditunggu – tunggu oleh penonton pun tiba. Dimulai dari naiknya drummer The Rev ke atas panggung, diikuti Zack Vengeance, Johnny Christ, dan Synyster Gates. Lampu yang tadi dipadamkan, dan diterangi oleh lampu berwarna ungu gelap, kembali dihidupkan seluruhnya secara terang benderang dengan dihantam lagu pembukaan dari mereka yang berjudul “Beast And The Harlot”. Aksi panggung dari Synyster Gates, membuat para penonton mulai moshing, dan para penonton yang ada di tribune mulai berdiri dari tempat duduk mereka. M.Shadows pun masuk dengan teriakannya yang khas. Para penonton dengan semangat menyanyikan seluruh lyric dari Beast And Harlot, tidak tertinggal satu bait pun.

    Terlihat M.Shadows dan kawan – kawan tersenyum melihat para fansnya yang berada di Indonesia begitu hapal dengan lagu mereka dan sangat antusias sekali. Tanpa basa – basi dari mereka, lagu kedua yang berjudul “Burn It Down” dimulai dengan sangat gahar. Lagu yang masih satu album dengan Beast And The Harlot ini, yaitu City Of Evil membuat semangat para penonton semakin terbakar. Kembali lagu ini dinyanyikan tanpa terlewatkan satu baitpun lyric nya oleh penonoton yang hadir malam itu.

    Puas dengan penampilan mereka, M.Shadows pun mulai berinteraksi dengan penonton. Betapa bangga dan bahagianya mereka, khususnya dari M.Shadows sendiri dengan para fans yang ada di Indonesia. M.Shadows sendiri mengatakan banyak sekali email yang masuk dan surat yang dikirim kepada mereka, dan mereka telah menerima email dan surat dari Indonesia sendiri untuk melaksanakan acara di Indonesia sejak dari tahun 1999, mereka sangat bangga bisa memenuhi permintaan tersebut. Pernyataan ini membuat reaksi para penonton yang hadir, terkejut, bangga, dan tambah semangat.

    Sebelum memasuki lagu berikutnya, M.Shadows mulai bertanya kepada penonton yang hadir pada malam itu, siapakah diantara mereka yang mempunyai album kedua mereka yang berjudul Waking The Fallen. Terlihat hampir seluruh dari penonton yang hadir mengangkat kedua tangan mereka keatas dengan symbol “Devil Horn”, menandakan mereka mempunyainya. Setelah pernyataan itu, M.Shadows pun mengatakan kepada penonton bahwa Zack akan membawa mereka larut dalam salah satu single terbaik mereka di album tersebut yang berjudul “Unholy Confession”. Lagu yang termasuk salah satu lagu favorit saya ini memang yang ditunggu – tunggu oleh penonton. Kembali, penonton yang ada di festival melakukan moshing dan body surfing, dan menyanyikan lagi lyric dari lagu ini tanpa terlewatkan satu bait pun.

    Tanpa memperdulikan keadaan penonton yang lagi terbakar semangatnya, M.Shadows pun menginstruksikan anggotanya yang lain untuk memainkan lagu selanjutnya, yang berjudul “Chapter Four”. Lagu yang di angkat dari kisah yang terdapat dalam sebuah buku ini menghanyutkan penonton dalam suasana yang sedang diungkapkan oleh M.Shadows dan kawan – kawan.

    Urutan lagu berikutnya pun dilanjutkan lagi. Tiba – tiba lampu dipadamkan, Zack Vengeance kembali ke front line dengan membawa gitar akustik. Ini adalah suatu tanda bahwa lagu berikutnya adalah “Seize The Day”. Lagu yang penuh dengan harmonisasi ini seolah – olah mengingatkan saya beserta penonton kembali dengan salah satu group band rock di era 80 hingga 90an. Dengan salah satu lagu andalannya “November Rain”.

    Lagu yang dilantunkan pun selesai, sejenak M.Shadows mencoba berkomunikasi lagi dengan para penonton. Setelah berkomunikasi panjang, mereka ingin istirahat sesaat, dan Synyster Gates pun mengambil alih kendali dengan memperlihatkan permainan solo gitarnya. Dibantu oleh The Rev, Synyster memetik gitarnya nada demi nada. Mempertunjukan keahlian bermainnya yang telah ditempanya selama dia mengenal gitar. Dan membuat para penonton disihir dengan kemampuannya, seolah-olah semua yang ada disana terhipnotis, dan mengikuti semua kegiatan yang dilakukannya, tanpa terlewatkan sedikitpun.

    Tiba – tiba para penonton dikejutkan oleh hentakan drum dari The Rev,rupanya itu merupakan suatu pertanda berakhirnya permainan solo Synyster dan waktu istirahat para anggota yang lain. Akhirnya para personil yang tadi sedang istirahat kembali masuk ke panggung. M.Shadows kembali mengambil alih kendali. Memberi kabar gembira kepada penonton bahwa album mereka yang baru akan segera hadir, diharapkan para penonton menunggunya dan jangan sampai ketinggalan. Dan M.Shadows pun berkata bahwa mereka akan memainkan salah satu single dari album tersebut, dan ini untuk pertama kalinya mereka memainkannya secara live, dan penonton yang ada di Indonesia lah yang pertama kali mendengarkannya.

    Lagu dimainkan, mulai dari intro, sampai selesai. Selama lagu berlangsung, para penonton yang hadir, termasuk saya terkagum-kagum dengan permainan dan lagu baru yang mereka ciptakan. Saya berusaha menilai keadaan dan kualitas dari lagu mereka yang baru ini, mungkin para penonton yang hadir pun melakukan hal yang sama. Kembali lagi, selama mendengarkan lagu ini saya teringat lagi salah satu band metal papan atas, yang merupakan ikon di dunia rock dan metal, yaitu Metallica. Sebuah band yang memiliki pengaruh besar terhadap band – band metal sekarang. Tetapi, selama lagu ini berlangsung, terlihat Synyster Gates mengganti gitar yang dimainkannya sebanyak dua kali. Ini mengundang tanya para penonton yang hadir, maupun saya. Ternyata benar dugaan saya, suara gitar Synyster Gates tidak maksimal keluar. Ini merupakan gangguan teknis yang terjadi selama mereka main. Setelah lagu ini selesai, M.Shadows menginstruksikan kepada Synyster Gates untuk segera memperbaikinya, dan selama memperbaikinya M.Shadows kembali berinteraksi dengan para penonton.

    Setelah semuanya selesai, terkendali, dan dapat ditangani, kembali mereka melantunkan lagu berikutnya. Mengenai lagu ini, saya sendiri jujur secara pribadi tidak akan mengira bahwa mereka akan membawakannya. Lagu yang diambil dari album Waking The Fallen ini membuat para penonton termasuk saya diam untuk yang kedua kalinya. Lagu yang diberi judul “I Won’t See You Tonight” ini berlangsung cukup lama. Saya sendiri bingung, apa sebenarnya yang ada di pikiran mereka, sehingga mereka meletakkan lagu ini di dalam song list mereka.

    Melihat para penonton yang dari tadi diam, M.Shadows memerintahkan para penonton untuk membuat “Circle Pitt” selama lagu berikutnya berlangsung. Karena lagu berikutnya berjudul “Thrashed and Scattered”. Kembali adrenaline penonton dipacu untuk sekian kalianya. Emosi yang ada di dalam diri penonton dilepaskan sepuasnya. Semangat yang tadi sempat padam sejenak mulai terbakar lagi setelah M.Shadows memberikan intstruksi untuk melantunkan lagu tersebut.

    Tiba – tiba, setelah lagu ini selesai dimainkan, lampu kembali padam, semua personil kembali kebelakang. Sewaktu kejadian ini, saya mempunyai firasat, bahwa acara ini akan segera mencapai puncaknya. Mereka tiba – tiba masuk lagi. Semua nya mengambil posisi masing – masing. Lagu yang paling ditunggu pun dimainkan,”Bat Country”. Hal yang terjadi pada lagu ini sangat sulit diungkapkan. Hampir semua penonton manjadi gila. Salah seorang penonton yang berada di depan saya yang tadinya tidak begitu terbakar emosinya, selama lagu ini berlangsung menjadi tidak terkendali. Ini menandakan lagu ini mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap para penonton.

    Yang saya perkirakan ternyata benar. Lagu Bat Country merupakan puncak dari acara tersebut. Mereka kembali berkomentar bahwa sangat bangga dan bahagia dapat bermain di Indonesia ini. Dan mereka akan berjanji untuk kembali lagi bermain di Indonesia di lain waktu. Para penonton ada yang merasa agak kecewa, mengapa semuanya terasa terlalu cepat berlalu. Saya sendiri jujur secara pribadi, ini merupakan konser metal yang berkesan, tetapi masih ada beberapa kekurangan yang perlu diperbaiki. Pertama gangguan teknis yang menyebabkan terlambatnya penampilan mereka. Kurang bersemangatnya mereka bermain. Hal ini terlihat pada raut muka The Rev dan cara dia memainkan drumnya. Pemain bass nya yang agak aneh dari live yang biasa saya saksikan. Johnny Christ seperti tidak menikmati permainanya. Minimnya alat yang digunakan. Dan terlalu cepatnya konser. Tapi menurut saya, konsernya dipercepat sepertinya berhubungan dengan gangguan teknis yang membuat mereka harus mempercepat konser tersebut.

    Konser selesai, para penonton ada yang berusaha keluar, ada yang masih menunggu, ada yang masih tidak percaya bahwa konser tersebut telah selesai. Saya sendiri menikmati pemandangan para kru membereskan alat – alat mereka. Semuanya saya nikmati, sampai penurunan background mereka yang khas. Lambang mereka selama ini, lambang yang mengidentifikasikan Avenged Svenfold, yaitu “Dead Bat”. Terimakasih sebesar-besarnya kepada Java Musikindo, yang telah berusaha mengundang mereka, menjalankan, dan menjaga konser ini tetap berjalan secara tertib. Dan terimakasih sebesar – besarnya terhadap Avenged Sevenfold karena telah mau datang dan main di Indonesia. Kami semua akan tetap menunggu kalian datang untuk kedua kalinya.

Sekian!!


The Song List :



• Beast And The Harlot
• Burn It Down
• Unholy Confession
• Chapter Four
Seize The Day
• Solo Guitar from Synyster Gates
• New song from their new album
• I Won’t See You Tonight (part I)
• Thrashed And Scattered
• Bat Country
 
 
 
 


База данных защищена авторским правом ©shkola.of.by 2016
звярнуцца да адміністрацыі

    Галоўная старонка