Daftar isi 1 pendahuluan 4




старонка1/28
Дата канвертавання27.04.2016
Памер0.57 Mb.
  1   2   3   4   5   6   7   8   9   ...   28

DAFTAR ISI


DAFTAR ISI 1

PENDAHULUAN 4

1.1. DEFENISI DAN RUANG LINGKUP 4

1.2. TUJUAN 4

1.3. HUBUNGAN DENGAN ILMU BOTANI LAIN 5

1.4. TAHAP PERKEMBANGAN 5

DETERMINASI 7

2.1. CARA MENDETERMINASI TUMBUHAN 7

2.2. ATURAN PEMBUATAN KUNCI DETERMINASI 8

2.3. MENGGUNAKAN KUNCI DETERMINASI 9

2.4. JENIS-JENIS KUNCI DETERMINASI TUMBUHAN 9

2.5. MEMBUAT CONTOH KUNCI DETERMINASI SEDERHANA 10

TATA NAMA (NOMENKLATUR) 12

3.1. SEJARAH TATANAMA TUMBUHAN 12

3.2. NAMA UMUM 13

3.3. NAMA ILMIAH 14

3.4. PRINSIP DAN PERATURAN TATANAMA TUMBUHAN 14

3.5. KOMPOSISI NAMA ILMIAH 15

3.6. TINGKAT KESATUAN TAKSONOMI 16

3.7. TIPE TATANAMA TUMBUHAN 17

3.8. SATU TAKSON SATU NAMA 18

KELAS CHAROPHYCEAE (CHARACEAE) 19

(Ganggang karang) 19

(Ganggang pirang) 21

5.1. Bangsa Phaeosporales 21

5.2. Bangsa Laminariles 22

5.3. Bangsa Dictyotales 24

5.4. Bangsa Fucales 25

(Ganggang merah) 27

6.1. Anak kelas BANGIEAEA (PROTOFLORIDEAE) 27

6.2. Anak kelas FLORIDEAE 27

(Lumut Kerak) 30

7.1. Kelas ASCOLICHENES 31

7.2. Kelas BASIDIOLICHENES (HYMENOLICHENES) 31

DIVISI BRYOPHYTE 33

(Tumbuhan Lumut) 33

8.1. KELAS HEPATICAE (LUMUT HATI) 34

8.1.1. Bangsa Anthocerotales (Lumut Tanduk) 34

8.1.2. Bangsa Marchantiales. 35

8.1.3. Bangsa jungermaniales. 35

8.2. KELAS MUSCI (LUMUT DAUN) 36

8.2.1. Bangsa Andreaeales 38

8.2.2. Bangsa Sphagnales ( lumut gambut ) 38

8.2.3. Bangsa Bryales 39

PTERIDOPHYTA 43

(Tumbuhan Paku) 43

KELAS PSILOPHYTINAE 48

(Paku Purba) 48

10.1. Bangsa Psilophytales (Paku Telanjang) 48

10.2. Bangsa Psilotales 49

KELAS LYCOPODINAE 51

( Paku Rambat atau Paku Kawat ) 51

11.1. Bangsa Lycopodiales 51

11.2. Bangsa Selaginellales (Paku Rane, Paku Lumut). 53

11.3. Bangsa Lepidodendrales 54

11.4. Bangsa Isoetales 56

KELAS EQUISETINAE 58

(Paku Ekor Kuda) 58

12.1. Bangsa Equisetales 58

12.2. Bangsa Sphenophyllales. 61

12.3. Bangsa Protoarticulatales. 61

KELAS FILICINAE 63

(Paku Sejati) 63

13.1. Leptosporangiate (Filices) 63

13.2. Anak Kelas Hydropterides (Paku Air) 70

PRIMOFILICES 74

FITOGRAFI 75

15.1. KORMUS DAN BAGIAN-BAGIANNYA 75

15.2. AKAR (Radix) 75

15.3. BATANG (CAULIS) 80

15.4. DAUN (Folium) 85

BATANG, DAN DAUN 109

15.6. ALAT PERKEMBANGBIAKAN (Organum Reproductivum) 113

15.6.1. BUNGA (FLOS) 113

15.6.2. Bagian-bagian Bunga 119

15.7. BUAH (Fructus) 126

15.8. BIJI (Semen) 130

15.9. Lembaga (Embryo) 132

DESKRIPSI 135

16.1. DEFENISI DAN KEPENTINGAN 135

16.2. BENTUK DAN ISI DESKRIPSI 135

PENCIRIAN 136

17.1. DEFENISI 136

17.2. MACAM SIFAT TAKSONOMI 136

SUMBER BUKTI TAKSONOMI 137

18.1. PERANAN SUMBER BUKTI TAKSONOMI 137

18.2. BEBERAPA SUMBER BUKTI TAKSONOMI 137

KLASIFIKASI 140

19.1. DEFENISI DAN TUJUAN 140

19.2. SEJARAH DAN MACAM-MACAM KLASIFIKASI 140

TEKNIK PEMBUATAN HERBARIUM 145

20.1. DEFENISI DAN FUNGSI HERBARIUM 145

20.2. CARA MENGKOLEKSI TUMBUHAN 145

SPERMATOPHYTA 149

21.1. Subdivisi Gymnospermae 149

21.2. Subdivisi Angiospermae 150


PENDAHULUAN




1.1. DEFENISI DAN RUANG LINGKUP


Istilah taksonomi diciptakan oleh A.P. de Candolle, seorang ahli tumbuhan bangsa Swiss di herbarium Genewa, yang artinya teori tentang klasifikasi tumbuhan (Rideng, 1989). Secara etimologi taksonomi berasal dari bahasa Yunani: takson artinya unit atau kelompok, dan nomos artinya hukum; jadi hukum atau aturan yang digunakan untuk menempatkan suatu makhluk hidup pada takson tertentu. Kegiatan pokok taksonomi tumbuhan ada tiga yaitu penamaan, pertelaan ciriciri dan penggolongan. Taksonomi merupakan bagian dari sistematika (Rifai,1976). Sistematika cakupannya lebih luas yaitu meliputi taksonomi, studi evolusi dan filogeni (Stuessy,1989).

1.2. TUJUAN


Tujuan taksonomi tumbuhan adalah:

  1. Untuk penemuan flora-flora di dunia

  2. Memberikan sebuah metode identifikasi dan komunikasi yang tepat

  3. Menghasilkan sistem klasifikasi yang terkait dan menyeluruh

  4. Memberikan nama ilmiah yang benar pada setiap takson tumbuhan sesuai dengan aturan tata nama tumbuhan.

  5. Membuat keteraturan dan keharmonian ilmu pengetahuan mengenai organisme sehingga tercipta suatu sistim yang sederhana dan dapat digunakan orang lain.

Ahli taksonomi tumbuhan mempunyai peranan dan tanggung jawab dalam membantu usaha konservasi jenis, membuat cagar alam dan mencegah punahnya jenis-jenis tumbuhan tertentu. Taksonomi tumbuhan juga mempunyai peranan dalam program-progam pembangunan menuju ke swasembada pangan mencakup: a. Intensifikasi; yaitu dengan memberikan saran dalam memilih tumbuhan antar varietas atau antar jenis yang hendak disilangkan untuk memperoleh bibit unggul. b. Diversifikasi (pembudidayaan berbagai jenis tanaman); taksonomi tumbuhan dapat membantu memilih jenis-jenis tumbuhan yang cocok untuk tujuan tersebut. c. Ekstensifikasi (perluasan areal); taksonomi dapat memilih jenis tumbuhan yang dapat digunakan sebagai indikator tanah. Di samping itu taksonomi juga berperan dalam pengembangan obat-obat tradisional. Dalam industri tempe misalnya, taksonomi dapat berperan dalam memilih jenis-jenis lain yang semarga dengan kedelai (bahan baku tempe) yang mempunyai kadar lemak dan protein yang lebih tinggi, sehingga secara teoritis dapat juga dipakai sebagai bahan baku tempe di samping kedele yang sudah umum dikenal (Rideng, 1989).

1.3. HUBUNGAN DENGAN ILMU BOTANI LAIN


Seorang ahli taksonomi harus mempunyai pengetahuan tentang morfologi, embriologi, anatomi, sitogenetik dan ilmu sejenis lainnya. Cabang ilmu ini merupakan dasar dari botani, tapi di lain pihak perkembangannya sangat tergantung pada kemajuan cabang-cabang botani lainnya. Datadata yang diungkapkan sebagai hasil penelitian sitologi, genetika, anatomi, ekologi, morfologi, palinologi, palaentologi, fitogeografi, fitokimia dan cabang-cabang botani lain sangat berguna bagi botani sistematika. Akan tetapi ilmu-ilmu itu sendiri tidaklah akan berjalan pesat secara efisien tanpa bantuan botani sistematika. Percobaan percobaan yang dilakukan dalam cabang-cabang botani yang banyak tersebut tidak mungkin dapat diulangi dan kebenaran kesimpulannya dikukuhkan kalau identitas atau nama tumbuhan objeknya meragukan. Kekurangcermatan dalam penamaan objek percobaan akan menyebabkan nilai suatu penelitian merosot atau bahkan tidak ada harganya sama sekali (Rifai, 1989).

  1   2   3   4   5   6   7   8   9   ...   28


База данных защищена авторским правом ©shkola.of.by 2016
звярнуцца да адміністрацыі

    Галоўная старонка